Harga Emas Menguat Tipis, Dolar Melemah Seusai Gencatan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat tipis pada Jumat (10/4/2026) dan bersiap mencatat kenaikan mingguan seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran, meskipun pasar masih menilai keberlanjutan kesepakatan tersebut serta dampaknya terhadap arah suku bunga global.
Pergerakan ini terjadi ketika pelaku pasar menimbang dinamika geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter, termasuk peluang penurunan suku bunga di Amerika Serikat yang dapat memengaruhi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Harga emas spot tercatat naik 0,3% menjadi US$ 4.778,89 per ons pada awal perdagangan Jumat. Sepanjang pekan ini, logam mulia telah menguat lebih dari 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru turun 0,3% ke level US$ 4.804,00 per ons.
Baca Juga
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan bahwa pembeli emas mulai kembali masuk secara bertahap dengan pola kenaikan harga harian yang konsisten, didorong sentimen positif dari gencatan senjata sementara. Ia menilai level US$ 5.000 akan menjadi titik krusial, saat penembusan di atas level tersebut berpotensi memicu reli lanjutan.
Gencatan senjata yang baru berlangsung dua hari itu sebelumnya menghentikan rangkaian serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Namun demikian, situasi di kawasan belum sepenuhnya stabil karena blokade Selat Hormuz masih berlangsung dan konflik paralel antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon belum mereda.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger menyebutkan bahwa meredanya ketegangan di Timur Tengah sedikit meningkatkan ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga ke depan. Kondisi ini menekan dolar AS dan turut menopang harga emas.
Dolar AS sendiri berada di jalur pelemahan mingguan, yang membuat emas berdenominasi dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Hal ini biasanya meningkatkan permintaan global terhadap emas.
Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan harga konsumen di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam pada Maret, mencatat kenaikan tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu kenaikan harga energi akibat konflik serta dampak lanjutan dari kebijakan tarif.
Baca Juga
Tekanan inflasi yang masih tinggi membatasi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga secara agresif. Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas cenderung kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Namun, ketidakpastian geopolitik tetap menjaga minat investor terhadap aset safe haven ini.
Dari sisi permintaan fisik, pasar India mencatat peningkatan pembelian emas menjelang festival penting, meskipun harga yang tinggi masih membatasi minat secara keseluruhan. Sementara itu, premi harga emas di China dilaporkan menyempit, mencerminkan permintaan yang relatif lebih moderat.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot naik 1,7% menjadi US$ 76,34 per ons. Sementara itu, platinum turun 2,5% ke level US$ 2.050,99 dan paladium melemah 2,5% menjadi US$ 1.518,66. Meski demikian, ketiga logam tersebut tetap berada di jalur penguatan secara mingguan.

