Elnusa (ELSA) Siapkan Strategi Dukung Swasembada Energi dan Transisi Rendah Karbon
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Elnusa Tbk (ELSA) menyiapkan strategi jangka panjang untuk mendukung swasembada energi nasional melalui penguatan eksplorasi minyak dan gas (migas), termasuk minyak non-konvensional (MNK), serta mulai memperluas peran ke energi rendah karbon. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan di tengah menurunnya produktivitas lapangan migas konvensional.
Dalam konteks kebijakan energi nasional, pemerintah mendorong percepatan eksplorasi dan produksi migas untuk meningkatkan lifting atau volume produksi siap jual. Pada saat yang sama, arah kebijakan juga mulai bergeser ke energi baru dan terbarukan guna menekan impor minyak mentah dan bahan bakar.
Direktur Utama PT Elnusa Tbk (ELSA) Litta Indriya Ariescamenjelaskan bahwa konsep swasembada energi pada dasarnya adalah kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Ia mengatakan bahwa infrastruktur saat ini masih didominasi sektor minyak dan gas, sehingga eksplorasi menjadi kunci untuk meningkatkan produksi.
“Jadi pemerintah juga mencanangkan percepatan untuk migas sehingga kita bisa, istilahnya untuk minyak dan gas sendiri kita bisa mengeksplor lebih dari yang ada sekarang,” ujar Litta saat wawancara eksklusif dengan Investortrust dikutip Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan bahwa praktik eksplorasi yang berjalan saat ini masih didominasi metode konvensional, mulai dari pencarian cadangan hingga produksi dan lifting. Namun, pendekatan ini dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan ke depan, terutama karena banyak lapangan migas yang sudah memasuki fase tua.
Baca Juga
Saat Lebaran, Elnusa (ELSA) Tetap Jalankan Operasi Seismik di Sulawesi Tengah
Untuk itu, pemerintah mulai mendorong pengembangan minyak dan gas non-konvensional atau MNK, yakni sumber energi yang berada jauh di bawah permukaan dan terperangkap dalam batuan keras. Potensi MNK di Indonesia dinilai masih besar, meski membutuhkan investasi tinggi dan teknologi canggih untuk mengembangkannya. “Potensi masih besar, tetapi memang tidak murah dan tidak mudah. Jadi kita perlu teknologi tinggi, kita perlu kesiapan dana,” kata Litta.
Seiring dengan itu, Elnusa juga mulai mengarahkan strategi bisnis ke sektor energi rendah karbon. Perusahaan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) serta kapabilitas teknologi untuk masuk ke rantai nilai energi masa depan, termasuk teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS), serta pengembangan panas bumi.
Elnusa menyatakan bahwa perusahaan telah memiliki sebagian besar keahlian yang dibutuhkan dalam rantai nilai CCUS, mulai dari proses penangkapan karbon, transportasi, hingga pemanfaatannya. Penguatan hanya diperlukan pada aspek adaptasi dan pengembangan teknologi agar sesuai dengan kebutuhan industri energi baru.
Selain itu, Elnusa juga telah menjalin kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dalam pengolahan data eksplorasi panas bumi di sejumlah wilayah. Jika hasil kajian menunjukkan potensi yang layak, proyek tersebut akan dikembangkan lebih lanjut sebagai bagian dari ekspansi energi terbarukan.
Dalam pengembangan teknologi, perusahaan turut menggandeng Pertamina Technology and Innovation serta unit teknologi hulu migas untuk memperkuat kapabilitas implementasi di lapangan.
Baca Juga
Elnusa menegaskan bahwa perannya tidak hanya terbatas pada sektor migas konvensional, tetapi juga mencakup pengembangan energi non-konvensional dan terbarukan. Kapabilitas teknis yang dimiliki saat ini dinilai dapat diadaptasi untuk berbagai jenis energi, dengan penyesuaian pada teknologi dan proses operasional.
Perusahaan menilai pendekatan ini menjadi kunci dalam menjaga relevansi bisnis di tengah transisi energi global, sekaligus mendukung target pemerintah dalam mencapai kemandirian energi nasional.

