Derita Kerugian hingga Rp 1,8 Triliun/ Tahun, WIKA Bakal Ditarik dari Proyek Whoosh
JAKARTA, investortrust.id - COO Danantara yang juga Kepala BP BUMN Dony Oskaria memberikan tanggapan terkait kerugian PT Wijaya Karya (WIKA) yang membengkak hingga Rp1,8 triliun per tahun akibat proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCKB) atau Whoosh.
Dony menyatakan, Danantara sedang membereskan permasalahan tersebut. Dikatakan, WIKA tidak akan lagi terlibat dalam proyek Whoosh karena tidak sejalan dengan bisnis mereka di bidang konstruksi.
"Jadi kan itu yang lama kita bereskan. Jadi mereka tidak akan lagi terlibat di dalam kereta api karena tidak in-line dengan bisnisnya mereka kan,” kata Dony di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga
Bos WIKA: KCIC Pemicu Lompatan Rugi Bersih Perseroan Jadi Rp 10,13 Triliun di 2025
Dony mengatakan, Danantara ingin membereskan persoalan kereta cepat Whoosh secara tuntas. Perusahaan BUMN yang tidak terkait dengan kereta api, termasuk WIKA akan kembali fokus pada bidang bisnisnya.
“Kita kembalikan lagi ke porsinya, misalnya WIKA memang bukan bidangnya di situ kita akan fokus ke kontraktor. Nanti satu persatu kita bereskan. kita maunya semua yang diselesaikan tuntas,” ujar dia.
Selain WIKA, Danantara juga akan menarik PT Bukit Asam (PTBA) dari konsorsium KCIC. Hal ini mengingat Bukit Asam sejatinya merupakan perusahaan tambang yang berada di bawah holding MIND ID.
"Pasti teman-teman tahulah, misalkan ada WIKA di sini, ada juga terkait dengan kereta api dengan Bukit Asam dan sebagainya. Ini kita bereskan, rapikan. Kita maunya semua yang kita kerjakan itu harus benar-benar tuntas,” tegasnya.
Dony mengatakan, penyelesaian persoalan Whoosh tinggal menunggu waktu.
"Jadi ya nanti lihat, ini juga penyelesaian kereta api ini akan tuntas," katanya.
Diberitakan, manajemen PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengungkap kenaikan signifikan rugi bersih tahun 2025 menjadi Rp 10,13 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 2,51 triliun berasal dari proyek kereta cepat Whoosh yang masih membebani kinerja keuangan perseroan.
Laporan kinerja keuangan WIKA menyebutkan kenaikan rugi bersih tersebut dipicu atas penurunan pendapatan bersih dari Rp 19,24 triliun menjadi Rp 13,32 triliun. Penurunan juga dipicu kenaikan pesat beban lain-lain dari Rp 3,73 triliun menjadi Rp 6,37 triliun dan kenaikan rugi ventura bersama dari Rp 606,66 miliar menjadi Rp 1,44 triliun.
Baca Juga
Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) Agung Budi Waskito (BW) mengatakan, sejak proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) alias Whoosh diserahkan dari kontraktor kepada PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan mulai beroperasi, KCIC mencatatkan kerugian yang kemudian berdampak pada WIKA selaku salah satu pemegang saham KCIC.
“Sejak kereta cepat beroperasi ini, perseroan selalu membukukan kerugian atas porsi saham yang dimiliki WIKA. Kepemilikan WIKA dalam kereta cepat ini kurang lebih 33%. Perseroan membukukan rugi besar setiap tahun, seperti tahun 2025 sekitar Rp 1,7-1,8 triliun,” ungkap Agung BW dalam konferensi pers site visit Proyek Tol Harbour Road II, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).

