Bos WIKA: KCIC Pemicu Lompatan Rugi Bersih Perseroan Jadi Rp 10,13 Triliun di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Manajemen PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengungkap kenaikan signifikan rugi bersih tahun 2025 menjadi Rp 10,13 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 2,51 triliun berasal dari proyek kereta cepat masih membebani kinerja keuangan perseroan.
Laporan kinerja keuangan WIKA menyebutkan bahwa kenaikan rugi bersih tersebut dipicu atas penurunan pendapatan bersih dari Rp 19,24 triliun menjadi Rp 13,32 triliun. Penurunan juga dipicu kenaikan pesat beban lain-lain dari Rp 3,73 triliun menjadi Rp 6,37 triliun dan kenaikan rugi ventura bersama dari Rp 606,66 miliar menjadi Rp 1,44 triliun.
Baca Juga
Demi Anggaran Pertahanan, Trump Akan Pangkas Pegawai Federal dan Belanja Kesehatan pada 2027
Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) Agung Budi Waskito (BW) mengatakan, sejak proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) alias Whoosh diserahkan dari kontraktor kepada PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan mulai beroperasi, KCIC mencatatkan kerugian yang kemudian berdampak pada WIKA selaku salah satu pemegang saham KCIC.
“Sejak kereta cepat beroperasi ini, perseroan selalu membukukan kerugian atas porsi saham yang dimiliki WIKA. Kepemilikan WIKA dalam kereta cepat ini kurang lebih 33%. Perseroan membukukan rugi besar setiap tahun, seperti tahun 2025 sekitar Rp 1,7-1,8 triliun,” ungkap Agung BW dalam konferensi pers site visit Proyek Tol Harbour Road II, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
Besarnya beban kerugian tersebut membuat WIKA menghadapi tantangan untuk mencatatkan laba positif ke depannya.
Baca Juga
Terkait progres utang proyek kereta cepat Whoosh, Agung BW menuturkan, mediasi restrukturisasi utang Whoosh tengah berlangsung antara empat BUMN Indonesia yang tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
“Sebenarnya di Singapura atas kesepakatan WIKA dan KCIC, kita sudah memasuki tahap mediasi yang sekarang diproses antara pihak melalui PSBI,” ujar dia.
Baca Juga
Seperti diketahui, PT KCIC adalah perusahaan patungan antara Indonesia, melalui PT PSBI dan China, melalui PT Beijing Yawan.
PT PSBI adalah perusahaan yang sengaja dibuat untuk proyek kereta cepat, yang isinya PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, sebagai pemegang saham terbesar, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

