WIKA Nilai Konflik Timur Tengah Tak Ganggu Proyek Perusahaan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Agung Budi Waskito (BW) optimistis konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Israel/Amerika Serikat (AS) tidak berdampak signifikan terhadap proyek-proyek yang tengah digarap perusahaan.
Dia mengakui terdapat kenaikan harga pada sejumlah material impor, seperti besi beton. Namun, penggunaan material impor oleh perseroan relatif terbatas.
“Tentu ada beberapa material yang mengalami kenaikan (harga). Material pertama adalah material impor, seperti besi beton,” kata Agung BW dalam konferensi pers sitevisit Proyek Tol Harbour Road II, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
Baca Juga
Meski demikian, Agung BW menegaskan dampaknya tidak besar ke kinerja perseroan karena sebagian besar material yang digunakan berasal dari dalam negeri.
“Sebenarnya, WIKA pada umumnya tidak menggunakan material impor sehingga memang efeknya tidak sangat besar karena kita hampir semuanya menggunakan material yang di dalam negeri,” tegas dia.
Terpisah, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mendorong swasembada aspal nasional di tengah dinamika geopolitik global, khususnya konflik Iran-Israel/Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga energi dunia.
“Hari ini kita berada di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, seperti kata Pak Presiden Prabowo Subianto, dinamika geopolitik global yang terus bergerak, termasuk di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada pelonjakan harga energi secara global, terganggunya pasok energi dunia, terus kemudian lari kepada tekanan fiskal dan polarisasi geopolitik serta risiko ketidakpastian investasi,” kata Dody beberapa waktu lalu.
Ia menyebut, situasi tersebut mendorong harga minyak berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung pada sektor infrastruktur, khususnya material strategis, seperti aspal. “Situasi ini mendorong harga minyak menjadi berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung kepada sektor infrastruktur kita, khususnya pada material strategis yang kita pakai yaitu aspal,” ungkap Dody.
Menurut Dody, ketergantungan terhadap impor menjadi risiko yang harus dikelola secara disiplin agar biaya pembangunan tidak meningkat. “Kondisi ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa ketergantungan adalah sebuah risiko dan dalam pembangunan nasional, risiko harus kita kelola dengan sangat disiplin agar cost tidak kemudian menjadi meledak,” ucapnya.
Menteri PU mengungkap, kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun pada tahun-tahun mendatang. Namun, hampir 80% kebutuhan tersebut masih bergantung pada aspal berbasis minyak bumi atau impor.
“Namun demikian, sekitar mungkin hampir 80% masih bergantung pada aspal yang berbasis pada minyak bumi atau impor. Di sisi lain, kita memiliki cadangan mineral yang bernama aspal buton yang sangat besar di Pulau Buton. Namun untuk pemanfaatannya saat ini masih sangat-sangat terbatas,” papar Dody.
Dia menambahkan, pemanfaatan aspal Buton atau asbuton saat ini baru sekitar 4% dari total kebutuhan nasional. Untuk itu, Kementerian PU menargetkan penggunaan aspal Buton dalam konstruksi jalan nasional hingga minimal 30%.
“Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum akan mendorong pemanfaatan kebudayaan lokal melalui penggunaan aspal buton dalam konstruksi jalan nasional hingga mencapai minimal 30%,” ujar Dody.
Baca Juga
Pembebasan Lahan Tol Harbour Road II Capai 45%, WIKA Targetkan Fungsional 2026
Lebih jauh, Dody menyatakan, peningkatan penggunaan asbuton berpotensi memberikan efisiensi negara sekitar Rp 4 triliun serta tambahan penerimaan pajak hampir Rp 2 triliun. Selain itu, pengembangan industri asbuton diperkirakan menciptakan nilai tambah ekonomi hingga sekitar Rp 23 triliun serta membuka ribuan lapangan kerja baru.
“Optimalisasi penggunaan asbuton untuk dalam pembangunan jalan merupakan langkah strategis untuk mendorong kemandiran ekonomi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan efisiensi fiskal, serta menjaga ketahanan pasokan material dalam jangka panjang,” tutur Dody.

