Harga BBG Rp 4.500, PGN (PGAS) Bidik Efisiensi Transportasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN memperkuat ketahanan energi nasional melalui optimalisasi bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi darat di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasokan dan harga energi, dengan menawarkan alternatif energi yang lebih efisien, terjangkau, dan ramah lingkungan bagi masyarakat.
BBG menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan BBM nonsubsidi. PGN menetapkan harga BBG sebesar Rp 4.500 per liter setara Pertalite (LSP), yang berlaku stabil di seluruh SPBG
Sebagai subholding gas dari PT Pertamina (Persero), PGN mendorong pemanfaatan bahan bakar gas (BBG), yaitu gas bumi yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, melalui jaringan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Inisiatif ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat kemandirian energi domestik.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan perusahaan berkomitmen memastikan akses energi andal dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga
Kelola Lebih 95% Infrastruktur Gas Bumi Nasional, PGN (PGAS) Tambah 230 km Pipa pada 2025
“Sejalan dengan peran PGN berkomitmen untuk senantiasa mendampingi masyarakat dalam mendapatkan akses energi andal dan harga bersahabat, terutama di tengah dinamika tantangan global saat ini,” ujar Fajriyah dikutip Rabu (1/4/2026).
Dari sisi ekonomi, BBG menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan BBM nonsubsidi. PGN menetapkan harga BBG sebesar Rp 4.500 per liter setara Pertalite (LSP), yang berlaku stabil di seluruh SPBG. Skema harga ini memberikan kepastian biaya bagi pengguna sekaligus membantu menekan pengeluaran operasional kendaraan.
Selain itu, BBG memiliki keunggulan dari sisi lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah hingga 20% dibandingkan BBM. Pemanfaatan energi ini turut mendukung target pemerintah dalam menurunkan emisi dan mencapai net zero emission atau kondisi nol emisi karbon bersih.
“Penggunaan BBG memberikan manfaat pada performa mesin kendaraan. Pembakaran gas yang lebih sempurna, sehingga membantu menjaga kebersihan ruang bakar mesin yang dapat menurunkan biaya operasional dan memperpanjang usia pakai kendaraan,” kata Fajriyah.
Perluas Akses dan Infrastruktur BBG
PGN juga memperluas akses layanan BBG melalui kolaborasi dengan komunitas pengguna, termasuk Komunitas Mobil Gas (Komogas). Perusahaan menghadirkan layanan bengkel keliling untuk pemeriksaan teknis, perawatan, hingga konversi kendaraan ke BBG.
Program ini berlangsung hingga Kamis (3/4/2026) di wilayah Kalimalang, Jakarta Timur dan berlanjut pada Senin (6/4/2026) hingga Jumat (10/4/2026) di SPBG Bogor. Layanan tersebut bertujuan memudahkan masyarakat dalam beralih ke BBG dengan dukungan teknis yang memadai.
Melalui anak usaha PT Gagas Energi Indonesia, PGN mengelola infrastruktur BBG yang terdiri dari 14 SPBG, 4 mobile refueling unit (MRU) atau unit pengisian bahan bakar bergerak, serta 1 mother station sebagai pusat distribusi gas.
Perusahaan menilai penguatan infrastruktur ini menjadi kunci dalam mendorong adopsi BBG yang lebih luas di masyarakat. Sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mempercepat pembangunan SPBG di berbagai wilayah.
Baca Juga
Dari Jargas hingga BBG, Ini Strategi Cerdas PGN (PGAS) Tekan Emisi Karbon
Fajriyah menegaskan PGN terus menjaga keandalan pasokan gas bumi untuk memastikan operasional SPBG berjalan optimal. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam menghadapi volatilitas energi global sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
“Pada prinsipnya, PGN terus memastikan keandalan pasokan gas bumi untuk seluruh jaringan SPBG yang tersebar di wilayah. Dengan mengoptimalkan sumber energi domestik, kontribusi ini diharapkan dapat menopang Indonesia dalam menghadapi dinamika energi dunia dan melangkah maju menuju kemandirian energi,” tutupnya.

