PGN (PGAS) Optimalkan BBG karena Emisi Turun 20% dan Biaya Lebih Hemat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) atau PGN melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia memperkuat pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) untuk kendaraan sebagai solusi ketahanan energi nasional. Upaya ini dilakukan di tengah kebutuhan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi alternatif bahan bakar yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
PGN, bagian dari subholding gas PT Pertamina (Persero) menilai BBG mampu menjadi standar baru yang mendukung performa mesin sekaligus menekan emisi karbon.
Direktur Operasi dan Komersial PT Gagas Energi Indonesia, Maisalina mengatakan, secara teknis, BBG memiliki nilai oktan atau research octane number (RON) yang tinggi, berkisar antara 120 hingga 130. "Kondisi ini memungkinkan mesin kendaraan beroperasi dengan rasio kompresi lebih tinggi sehingga meningkatkan efisiensi termal secara optimal," kata dia dikutip Rabu (15/4/2026).
Selain itu, BBG yang berbahan dasar metana atau CH4 menghasilkan proses pembakaran lebih sempurna dibandingkan bahan bakar minyak. Emisi karbon yang dihasilkan lebih rendah sekitar 20%, serta tidak meninggalkan residu pada komponen mesin. Dampaknya, mesin kendaraan menjadi lebih awet dan biaya perawatan dapat ditekan.
Dia mengatakan, aspek keamanan penggunaan BBG telah memenuhi standar internasional. “Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai aspek keamanan, karena pemasangan setiap converter kit maupun tangki BBG melalui standar keselamatan internasional oleh tenaga ahli yang kompeten,” ujar Maisalina.
Baca Juga
Subholding Gas Pertamina dan Bluebird Bahu-Membahu Pemanfaatan BBG
Tangki BBG dirancang khusus dengan kapasitas hingga 15 liter gas per tangki dan dilengkapi sistem keamanan tinggi. Jika terjadi kebocoran, gas akan langsung naik ke udara dan terurai sehingga meminimalkan risiko ledakan.
Dari sisi konsumsi, penggunaan BBG pada kendaraan bervariasi. Kendaraan pribadi rata-rata menggunakan 10 liter setara Pertalite per hari, taksi sekitar 20 liter, sementara angkutan umum seperti bajaj dan angkot berkisar 15 hingga 20 liter. Untuk kendaraan berat, seperti truk dan bus, konsumsi mencapai 125 hingga 165 liter setara Pertalite per hari, dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer untuk setiap 1 liter setara Pertalite.
Maisalina menambahkan harga BBG relatif stabil di kisaran Rp 4.500 per liter setara Pertalite karena bersumber dari gas domestik. Ia menilai kondisi tersebut membuat BBG menjadi alternatif yang ekonomis di tengah fluktuasi harga bahan bakar minyak.
“Dengan banyak manfaat yang dapat dirasakan, kami berharap minat terhadap BBG semakin meningkat. Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, kami juga terus memperkuat kapabilitas agar layanan BBG semakin massif dan optimal sebagai solusi bahan bakar yang andal bagi masyarakat di berbagai wilayah,” tutupnya.
Penguatan Ekosistem BBG
Penggunaan BBG saat ini telah diterapkan pada berbagai jenis kendaraan, baik yang menggunakan sistem bahan bakar khusus maupun sistem dual fuel. Sistem ini memungkinkan kendaraan beralih antara BBG dan bahan bakar minyak melalui converter kit, sehingga meningkatkan fleksibilitas dan jarak tempuh.
BBG telah dimanfaatkan oleh berbagai segmen transportasi, mulai taksi konvensional, taksi online, bajaj, kendaraan pribadi, angkutan kota hingga bus TransJakarta. Pemanfaatan ini menunjukkan potensi BBG dalam mendukung transisi energi di sektor transportasi.
Dalam memperluas ekosistem, Gagas menjalin kemitraan dengan Komunitas Mobil Gas (Komogas). Kolaborasi ini bertujuan memastikan infrastruktur dan layanan BBG semakin relevan dengan kebutuhan pengguna di lapangan.
Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah menghadirkan bengkel keliling BBG yang memberikan layanan perawatan sekaligus edukasi terkait keamanan dan efisiensi penggunaan BBG.
Baca Juga
Ketua Komogas Andy Lala mengatakan anggota komunitas memilih BBG karena harga bahan bakar minyak yang terus meningkat serta efisiensi biaya operasional. Selain itu, BBG dinilai memberikan ruang bakar yang lebih bersih dibandingkan bahan bakar konvensional. “Keberadaan Bengkel Keliling BBG sangat bermanfaat karena memudahkan perawatan dan perbaikan kendaraan BBG, mengurangi kesulitan mencari bengkel khusus, dan membantu menjaga waktu kerja pengemudi,” ujar Andy.
Ia menambahkan, bengkel keliling diharapkan menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem BBG nasional serta mendorong lebih banyak pengguna beralih dari bahan bakar minyak ke bahan bakar gas.

