Harga Emas Naik, tapi Catat Kinerja Bulanan Terburuk dalam Lebih Satu Dekade
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik pada Selasa (31/3/2026) setelah sempat tertekan sepanjang bulan, tetapi tetap mencatat kinerja bulanan terburuk dalam lebih dari 1 dekade di tengah gejolak geopolitik dan perubahan ekspektasi pasar, sehingga meningkatkan ketidakpastian bagi investor global.
Pergerakan ini terjadi setelah kontrak berjangka emas ditutup naik lebih dari 2% ke level US$ 4.678,60. Meski demikian, sepanjang Maret harga emas turun lebih 10%, menandai penurunan bulanan terbesar sejak Juni 2013 sekaligus mengakhiri tren penguatan selama delapan bulan berturut-turut.
Kondisi serupa juga terjadi pada logam mulia lain. Harga perak melonjak lebih 6% ke US$ 74,92 pada perdagangan Selasa, tetapi sepanjang Maret tercatat anjlok lebih 19%. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak 2011 dan memutus tren kenaikan selama 10 bulan.
Meski melemah secara bulanan, kinerja kuartalan masih mencatatkan kenaikan. Emas dan perak masing-masing naik lebih dari 7% dan 6% sepanjang kuartal pertama 2026, menunjukkan bahwa minat terhadap aset lindung nilai masih bertahan di tengah volatilitas pasar.
Pergerakan harga logam mulia terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki minggu kelima. Laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden AS Donald Trump membuka peluang mengakhiri konflik meski Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Washington tengah melakukan “diskusi serius” dengan Iran, tetapi membuka opsi serangan terhadap infrastruktur energi strategis jika kesepakatan tidak tercapai.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan target Washington di Iran dapat dicapai dalam waktu “minggu, bukan bulan”, menandakan potensi eskalasi yang cepat di kawasan tersebut.
Laporan Reuters juga mengungkapkan sekitar 2.500 marinir AS telah tiba di Timur Tengah, memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas.
Lonjakan ketegangan ini mendorong kenaikan harga minyak dan gas, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi global. Kondisi tersebut biasanya memicu kenaikan suku bunga, yang cenderung menekan harga emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga.
Perubahan Pola Perdagangan Emas
Manajer Investasi Shackleton Advisers Wayne Nutland mengatakan dinamika pasar emas telah berubah signifikan dalam beberapa tahun terakhir. “Sebelum perang Ukraina, harga emas cenderung berbanding terbalik dengan imbal hasil obligasi riil dan dolar AS,” ujarnya.
Namun, ia menjelaskan bahwa hubungan tersebut berubah drastis setelah konflik global meningkat, terutama pada 2025 hingga awal 2026 ketika harga emas melonjak tajam melampaui pola historisnya.
Menurutnya, pascakonflik Iran, emas kembali menunjukkan pola tradisional. Kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS membuat harga emas kembali tertekan.
“Penurunan harga emas mungkin juga diperparah oleh kuatnya harga emas menjelang 2026 dan kemungkinan keinginan para investor untuk melikuidasi posisi yang menguntungkan,” katanya.
Kepala Investasi Netwealth Iain Barnes menilai volatilitas emas meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir, bahkan mencapai dua kali lipat dari level historis. Ia menjelaskan bahwa peran bank sentral dalam mendiversifikasi cadangan dari dolar AS sempat mendorong tren bullish emas. Namun, pasar mulai kehabisan pembeli baru sehingga aksi ambil untung meluas.
Menurut Barnes, situasi ini memiliki kemiripan dengan periode krisis 2008, ketika posisi investor yang terlalu besar di komoditas memperparah pergerakan harga saat sentimen berubah. “Tahun ini, pasar kembali menemukan di mana investor paling terpapar: posisi berlebihan pada emas karena dianggap sebagai aset safe haven terakhir yang tersisa,” ujarnya.
Baca Juga
Prospek Tetap Positif
Meski volatilitas meningkat, analis Goldman Sachs tetap optimistis terhadap prospek jangka menengah emas. Mereka memperkirakan harga emas dapat mencapai US$ 5.400 per ons pada akhir 2026, didorong oleh diversifikasi cadangan bank sentral dan potensi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS.
“Namun, kami terus memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 5.400/ons pada akhir tahun 2026,” tulis analis Goldman Sachs.
Mereka menambahkan bahwa risiko jangka pendek tetap ada, terutama jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut dan memicu likuidasi lanjutan oleh investor.
Dalam jangka menengah, ketegangan geopolitik yang meluas justru dapat mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai, terutama jika memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal negara-negara Barat.

