Harga Emas Naik, Investor Waspadai Tekanan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik untuk sesi kedua berturut-turut pada Senin (30/3/2026) seiring meningkatnya permintaan aset aman di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, meskipun logam mulia ini masih berada di jalur penurunan bulanan terdalam sejak krisis keuangan global akibat tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi.
Kenaikan harga terjadi setelah pekan sebelumnya emas sempat menyentuh level terendah sejak awal November 2025. Pelaku pasar kembali memburu aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
Harga emas spot naik 0,5% menjadi US$ 4.513,54 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga meningkat sebesar US$ 115,30 menjadi US$ 4.524,30.
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan konflik yang terus berlangsung menjadi faktor utama penggerak harga emas dalam jangka pendek. Ia menilai belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan, sehingga permintaan terhadap aset aman tetap kuat.
Baca Juga
“Perang masih berlangsung sengit dan belum ada tanda-tanda penyelesaian, dan itu mendorong harga emas lebih tinggi karena permintaan sebagai aset aman. Fokus pasar dalam jangka pendek akan tertuju pada perang, harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, dan indeks dolar AS,” ujar Wyckoff dilansir CNBC.
Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel dan menyatakan akan menghukum agresor, sementara pasukan Israel terus melakukan serangan ke Teheran. Pada saat yang sama, harga minyak dunia naik setelah kelompok Houthi di Yaman turut memasuki konflik, memperluas risiko geopolitik kawasan.
Tekanan terhadap emas sebenarnya masih kuat dalam skala bulanan. Sepanjang Maret, harga emas telah merosot lebih 13%, menjadikannya kinerja bulanan terburuk sejak 2008. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga pasar memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Baca Juga
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan yield lebih menarik, seperti obligasi.
Dalam jangka pendek, arah harga emas juga akan dipengaruhi serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut mencakup lowongan kerja, penjualan ritel, laporan ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP), serta data penggajian non-pertanian yang menjadi acuan utama kebijakan suku bunga.

