Ekonom Nilai Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih dalam Kondisi Wajar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Airlangga (Unair) Wisnu Wibowo mengatakan, memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat–Israel serta pembatasan di jalur strategis Selat Hormuz, mulai berdampak pada lonjakan harga minyak global. Kondisi ini disinyalir bakal mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia secara bertahap.
“Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” kata Wisnu Wibowo saat dihubungi, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga
Seperti diketahui, pada periode Februari ke Maret 2026, sejumlah produk BBM nonsubsidi di Tanah Air mengalami kenaikan. Pertamax (RON 92) naik dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp 12.450 menjadi Rp 12.900, serta Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp 12.700 menjadi Rp 13.100 per liter.
Untuk jenis solar nonsubsidi, harga Dexlite naik dari Rp 13.250 menjadi Rp 14.200 per liter dan Pertamina Dex dari Rp 13.500 menjadi Rp 14.500 per liter. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar masih ditahan masing-masing di harga Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.
Wisnu pun menjelaskan, kenaikan BBM nonsubsidi masih berada dalam batas moderat, yakni di kisaran 5–10%.
“Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10%, sekitar 5-10%,” ujarnya.
Wisnu menjelaskan, mekanisme penentuan harga BBM non-subsidi memang disesuaikan secara berkala mengikuti tren harga minyak dunia, khususnya acuan Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus yang merupakan lembaga independen yang juga menentukan harga komoditas global.
Selain itu, penyesuaian juga mengacu pada formula dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mempertimbangkan harga acuan, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak.
“Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran,” jelasnya.
Dia menambahkan, badan usaha juga memiliki kewenangan menentukan harga jual eceran BBM nonsubsidi dengan tetap melaporkan kepada pemerintah. Hal ini membuat harga lebih mencerminkan kondisi pasar sekaligus mendorong perilaku konsumsi energi yang lebih rasional, khususnya bagi masyarakat mampu.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus di atas US$ 100 per barel turut memberi tekanan pada fiskal negara. Setiap kenaikan US$ 1 harga minyak berpotensi menambah beban APBN hingga Rp 6,7 triliun.
Kendati demikian, pemerintah diperkirakan tidak akan terburu-buru menaikkan harga BBM secara luas, terutama yang bersubsidi. Kebijakan penyesuaian harga masih menjadi opsi terakhir yang akan diambil apabila tekanan fiskal semakin berat.
Diketahui, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mulai mengerek harga BBM sejak akhir Februari 2026 lalu. Negara dengan mekanisme pasar penuh seperti Thailand dan Vietnam mengalami lonjakan harga yang lebih tajam, terutama pada jenis solar yang berkaitan langsung dengan sektor logistik dan industri.
Sementara itu, negara yang masih memberikan subsidi besar seperti Malaysia relatif mampu menahan kenaikan harga. Di sisi lain, Singapura mencatat harga BBM tertinggi di kawasan karena tidak menerapkan subsidi dan membebankan pajak energi yang tinggi.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia berada pada posisi relatif stabil di tengah tekanan global. Kenaikan harga BBM nonsubsidi masih tergolong moderat, sementara BBM bersubsidi, khususnya solar, tetap menjadi bantalan utama dalam menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan WFH Jumat, Purbaya: Hemat BBM dan Tak Ganggu Produktivitas
Berikut ini komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026.
1. Indonesia (Pertamina)
RON 90: Rp 10.000
RON 92: Rp 12.300
RON 95: Rp 12.900
RON 98: Rp 13.100
Solar subsidi: Rp 6.800
Dexlite (non-subsidi): Rp 14.200
Pertamina Dex: Rp 14.500
2. Malaysia
RON 95: ± Rp 8.500 – Rp 11.400
RON 97: ± Rp 13.000
Solar (diesel): ± Rp 10.000 – Rp 11.500
3. Singapura
RON 95: ± Rp 45.000
RON 98: Rp 52.000 – Rp 55.000
Solar (diesel): ± Rp 45.000 – Rp 47.000
4. Thailand
RON 92: ± Rp 23.000
RON 95: ± Rp 23.000 – Rp 24.000
Solar (diesel): ± Rp 17.000
5. Vietnam
RON 92: ± Rp 22.000 – Rp 25.000
RON 95: ± Rp 25.000+
Solar (diesel): ± Rp 20.000 – Rp 21.000+

