Bagikan

Presiden Prabowo Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik, BBM Bakal Jadi 'Barang Mewah'?

Poin Penting

Presiden Prabowo targetkan motor, mobil, hingga truk di Indonesia beralih sepenuhnya ke tenaga listrik.
Penggunaan motor listrik diklaim pangkas biaya operasional warga hingga 80% dibanding motor BBM.
Pemerintah targetkan bangun 100 GW tenaga surya untuk dukung infrastruktur 2.800 unit SPKLU nasional.

JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik (EV) secara masif di Indonesia, mulai dari sepeda motor hingga kendaraan berat. Langkah ini diklaim jadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus meningkatkan efisiensi energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Dalam wawancara “Presiden Prabowo Menjawab” di Hambalang, Bogor, Prabowo menegaskan bahwa transformasi ke kendaraan listrik akan dilakukan secara menyeluruh. “Tapi the whole plan is, semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik,” ujarnya dikutip dari YouTube Presiden Prabowo, Senin (23/3/2026).

Ia menilai ketergantungan pada kendaraan berbasis BBM membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global. Karena itu, elektrifikasi menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menekan beban pengeluaran masyarakat.

Dari hitungan simulasi pemerintah, biaya operasional kendaraan listrik, terutama motor bisa turun drastis. “Yang naik motor kalau dia pakai listrik, pengeluarannya tinggal 20%, seperlima. Ini game changer,” kata Presiden.

Lebih jauh, Presiden Prabowo juga memberi sinyal bahwa penggunaan BBM ke depan akan semakin terbatas. Ia bahkan menyebut BBM bisa menjadi konsumsi kalangan tertentu. “Nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari silakan pakai bensin, bayar saja harga dunia,” jelasnya.

Baca Juga

Mudik Pakai Mobil Listrik Tak Perlu Khawatir, 1.681 SPKLU Tersedia di 994 Lokasi

Infrastruktur dan Energi Jadi Tantangan Utama

Meski ambisi elektrifikasi kendaraan dinilai menjanjikan, tantangan besar masih membayangi, terutama dari sisi infrastruktur dan pasokan energi. Hal itu pernah disinggung oleh pengamat otomotif dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu.

Merujuk tren penjualan EV selama beberapa tahun terakhir, ia justru menyoroti ketidakseimbangan dengan infrastruktur pengisian daya atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). "Pertumbuhannya (EV) lebih cepat dari SPKLU, produsen harusnya juga jangan lepas tangan, bangun (juga) ekosistemnya," kata Yannes beberapa waktu lalu.

Faktanya, hingga awal 2026, jumlah SPKLU di Indonesia tercatat telah mencapai lebih dari 2.800 unit. Pengembangan ini didorong oleh PLN (Persero) bersama mitra swasta, namun jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan untuk mengimbangi potensi lonjakan pengguna kendaraan listrik.

Di sisi lain, kesiapan sumber energi juga menjadi sorotan. Presiden Prabowo menargetkan pembangunan kapasitas listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt dalam dua tahun ke depan. Saat ini, kapasitas produksi listrik nasional baru berada di kisaran 11 gigawatt, sementara pembangkit listrik tenaga diesel masih menyumbang sekitar 13 gigawatt dan dinilai tidak efisien.

Pemerintah pun berencana menghentikan penggunaan diesel untuk pembangkit listrik secara bertahap. “Tidak boleh lagi ada listrik dari diesel, terlalu mahal,” tegas Prabowo.

Selain tenaga surya, Indonesia juga memiliki potensi besar dari sumber energi lain seperti kelapa sawit yang dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif. Namun demikian, dalam jangka pendek pemerintah tetap meminta masyarakat untuk mengurangi konsumsi BBM sebagai langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan harga energi global.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024