Harga Emas Stabil Meski Harapan Pemangkasan Suku Bunga Memudar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas stabil pada perdagangan Senin (16/3/2026) setelah sempat turun hampir 1% pada awal sesi. Pelemahan dolar AS membantu menopang harga logam mulia tersebut di tengah memudarnya harapan penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat akibat lonjakan harga energi global.
Harga emas spot tercatat tidak berubah di level US$ 5.017,53 per ons pada pukul 01.01 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April turun 0,8% menjadi US$ 5.020,90 per ons.
Dilansir Economic Times pergerakan harga emas dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, terutama dinamika nilai tukar dolar AS dan pergerakan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat. Dolar yang melemah membuat komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut, termasuk emas batangan, menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Baca Juga
Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga tercatat menurun. Penurunan imbal hasil ini meningkatkan daya tarik emas, karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil sehingga biasanya lebih diminati ketika return obligasi melemah.
Di sisi lain, pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga energi. Harga minyak mentah bertahan di atas US$ 100 per barel setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki minggu ketiga. Konflik tersebut mengancam infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah dan membuat Selat Hormuz tetap tertutup.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Penutupan jalur tersebut berpotensi menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan minyak dunia, sehingga memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi.
Kenaikan harga minyak mentah dapat memicu inflasi karena meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Dalam kondisi tersebut, emas biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang tinggi membuat aset berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik bagi investor sehingga dapat menekan permintaan emas.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada akhir pekan mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg. Ia juga menyatakan belum siap untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Trump menegaskan negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebut pemerintahan Trump berencana mengumumkan dalam waktu dekat bahwa beberapa negara telah sepakat membentuk koalisi untuk mengawal kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun ke Rp 2,997 Juta per Gram Tertekan Dolar AS
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat. Investor memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan yang akan diumumkan Rabu pekan ini.
Jika suku bunga tetap tinggi lebih lama, permintaan terhadap emas berpotensi tertekan karena investor cenderung beralih ke instrumen keuangan yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan pergerakan positif. Harga perak spot naik 0,4% menjadi US$ 80,88 per ons. Harga platinum spot menguat 0,9% menjadi US$ 2.049,50 per ons, sementara paladium naik 0,3% menjadi US$ 1.556,50 per ons.

