Harga Emas di Jalur Penurunan Mingguan Kedua, Sentimen Suku Bunga Membebani
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global turun pada perdagangan Jumat (13/3/2026) dan berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kondisi ini menekan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Dolar yang lebih kuat membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Pada perdagangan terbaru, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 5.052,15 per ons. Dalam sepekan, harga logam mulia ini telah melemah lebih 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup turun 1,3% ke level US$ 5.061,70 per ons.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai bahwa sentimen jangka panjang terhadap emas sebenarnya masih cukup positif, meskipun tekanan jangka pendek terus muncul akibat penguatan dolar.
Baca Juga
“Meskipun pasar tetap sangat bullish terhadap emas dalam jangka panjang berdasarkan pendorong alokasi aset, harga emas batangan terus bergerak menuju titik terendah sejak konflik Iran dimulai, sementara dolar berada di level tertinggi hampir empat bulan,” kata Tai Wong dikutip CNBC.
Penguatan dolar juga dipicu ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap ketat untuk mengendalikan inflasi.
Bank investasi Jerman Commerzbank dalam catatannya menyebut bahwa ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas biasanya menjadi kurang menarik bagi investor karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen keuangan lainnya.
Data ekonomi terbaru di Amerika Serikat juga memperkuat pandangan tersebut. Pengeluaran konsumen pada Januari tercatat meningkat sedikit di atas perkiraan, sementara inflasi inti masih bertahan pada tingkat yang relatif tinggi.
Kondisi ini membuat banyak ekonom memperkirakan bahwa Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, belum akan melanjutkan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Ketegangan Timur Tengah
Faktor geopolitik turut memperburuk sentimen pasar logam mulia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut muncul setelah Pemerintah Amerika Serikat memberikan pengecualian sementara selama 30 hari bagi beberapa pihak untuk membeli minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi.
Baca Juga
Harga minyak global memang sempat turun, tetapi tetap berada di jalur kenaikan mingguan karena gangguan pasokan di kawasan Teluk yang dipicu konflik regional.
Di sisi lain, aliran perdagangan emas dari Dubai sebagai salah satu pusat perdagangan emas terbesar dunia mulai kembali bergerak. Beberapa penerbangan yang sempat terhenti telah kembali beroperasi sehingga distribusi logam mulia kawasan tersebut perlahan pulih, menurut sumber industri yang dikutip Reuters.
Sementara itu, tekanan juga terlihat pada logam mulia lainnya. Harga perak turun 3,3% menjadi US$ 81,00 per ons. Platinum melemah 4% menjadi US$ 2.047,20, sedangkan paladium turun 2,5% ke level US$ 1.569,00 per ons.

