Harga Emas Turun Dibayangi Penguatan Dolar dan Inflasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global melemah pada Rabu (12/3/2026) setelah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran inflasi menekan minat investor, di tengah ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.
Harga emas turun 0,4% menjadi US$ 5.169,02 per ons pada pukul 13.33 waktu New York. Pada sesi sebelumnya, logam mulia ini sempat mencatat kenaikan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup 1,2% lebih rendah di level US$ 5.179,10.
Sementara indeks dolar AS naik 0,4%, membuat komoditas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
“Pasar emas tampaknya berada dalam tarik-ulur antara permintaan aset aman yang didorong oleh perang dan kekhawatiran atas suku bunga yang tinggi dalam jangka waktu lama,” ujar Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant diilansir CNBC
Emas selama ini dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Namun, daya tariknya cenderung menurun ketika suku bunga tinggi karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, seperti instrumen keuangan lainnya.
Baca Juga
Pasar Asia-Pasifik Melemah, Investor Cemaskan Gejolak Harga Minyak
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memicu lonjakan harga energi. Harga minyak dunia melonjak sekitar 4% setelah terjadi serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Sejumlah analis menilai proposal Badan Energi Internasional untuk melepas cadangan minyak belum cukup meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis pasokan.
Pemerintah Iran bahkan memperingatkan bahwa dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak mencapai US$ 200 per barel. Pasukan Iran dilaporkan menyerang kapal dagang serta menembaki target Israel dan sejumlah sasaran lain di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan tekanan inflasi masih relatif kuat. Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 0,3% pada Februari dibanding bulan sebelumnya, sesuai dengan perkiraan pasar dan lebih tinggi dari kenaikan 0,2% pada Januari.
Secara tahunan, CPI meningkat 2,4% hingga Februari, juga sejalan dengan ekspektasi ekonom. Investor kini menantikan rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Januari yang tertunda dan dijadwalkan keluar pada Jumat (13/3/2026).
Baca Juga
Analis Standard Chartered menilai penurunan harga emas dalam beberapa minggu terakhir bukan hal yang tidak biasa, terutama ketika pelaku pasar membutuhkan likuiditas atau uang tunai. Meski demikian, bank tersebut tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas dalam jangka panjang.
“Kami mempertahankan pandangan positif jangka panjang kami dan memperkirakan emas akan melanjutkan tren kenaikannya di luar aksi ambil untung jangka pendek,” tulis analis Standard Chartered.
Pada perdagangan logam mulia lainnya, harga perak turun 3,5% menjadi US$ 85,34 per ons. Sementara itu, platinum melemah 0,8% menjadi US$ 2.183,10 per ons dan paladium turun 1,4% ke level US$ 1.631,59 per ons.

