Harga Emas Turun Efek Penguatan Dolar dan Drama Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun lebih 1% pada Kamis (13/3/2026) setelah dolar AS menguat untuk sesi ketiga berturut-turut dan harapan penurunan suku bunga memudar. Tekanan juga datang dari kekhawatiran inflasi di tengah eskalasi konflik Iran yang mengganggu pasokan energi di Timur Tengah.
Harga emas spot turun 1,1% menjadi US$ 5.118,16 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup 1% lebih rendah di level US$ 5.125,80.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan logam mulia tersebut. Mata uang AS sering dianggap sebagai aset safe-haven yang bersaing dengan emas. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga permintaan global cenderung melemah.
“Indeks dolar yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan kurangnya pemotongan suku bunga merupakan faktor negatif, tetapi konflik di Timur Tengah telah menghasilkan beberapa aliran dana ke aset aman,” kata Kepala Ahli Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible dilansir CNBC.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah meningkat setelah dua kapal tanker terbakar di perairan Irak dalam serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Iran. Insiden tersebut mengganggu pasokan energi regional dan mendorong lonjakan harga minyak pada hari yang sama.
Baca Juga
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan negaranya akan membalas serangan terhadap warganya. Ia juga menyatakan kemungkinan menutup Selat Hormuz serta menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Lonjakan harga minyak biasanya meningkatkan tekanan inflasi karena biaya transportasi dan produksi menjadi lebih mahal. Dalam kondisi seperti itu, emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga tinggi membuat aset berbunga, seperti obligasi menjadi lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Streible menilai prospek emas masih relatif kuat jika kenaikan harga minyak dapat dikendalikan. Ia menambahkan faktor fundamental lain tetap mendukung harga emas dalam jangka panjang.
“Jika mereka dapat mencegah harga minyak naik lebih jauh, emas seharusnya berada di posisi yang baik. Dari sisi bullish untuk emas, argumen utamanya adalah pembelian oleh bank sentral dan arus masuk dana yang diperdagangkan di bursa yang stabil sepanjang tahun,” ujar dia.
Salah satu faktor pendukung tersebut terlihat dari aktivitas bank sentral. Bank sentral Chili mencatat pembelian emas besar pertamanya setidaknya sejak tahun 2000. Pada Februari, lembaga tersebut meningkatkan cadangan emasnya menjadi US$ 1,108 miliar atau sekitar Rp 17,2 triliun, naik tajam dari US$ 42 juta atau sekitar Rp 652 miliar pada Januari.
Dengan kenaikan tersebut, emas kini setara dengan 2,2% dari total cadangan devisa negara tersebut.
Di pasar logam lainnya, harga perak turun 1% menjadi US$ 84,90 per ons. Meski demikian, harga perak masih mencatat kenaikan tajam lebih dari 146% sepanjang tahun lalu.
Baca Juga
Analis BMI dalam catatan risetnya memperkirakan harga perak rata-rata dapat mencapai US$ 93 per ons pada 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh kuatnya permintaan investasi yang diperkirakan mampu menopang reli harga yang terjadi sepanjang 2025.
Menurut mereka, permintaan investasi yang solid berpotensi mengimbangi penurunan permintaan di sektor industri tertentu. Kenaikan harga perak membuat penggunaan logam tersebut di sektor panel surya dan perhiasan cenderung menurun.
Sementara itu, harga platinum spot turun 1,1% menjadi US$ 2.145,75 per ons, sedangkan paladium melemah 1% menjadi US$ 1.620,86 per ons.

