Harga Emas Menguat 2%, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melonjak hampir 2% pada perdagangan Selasa (11/3/2026), didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya kekhawatiran inflasi setelah harga minyak turun di tengah harapan konflik di Timur Tengah segera mereda.
Harga emas spot naik 1,9% menjadi US$ 5.231,79 per ons. Sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup 2,7% lebih tinggi pada US$ 5.242,10 per ons.
Penguatan harga emas juga dipengaruhi pelemahan indeks dolar AS. Mata uang yang lebih lemah membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga meningkatkan permintaan global terhadap logam mulia tersebut.
Di sisi lain, harga minyak dunia justru turun tajam setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 3 tahun. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan perkiraan bahwa konflik di Timur Tengah dapat segera berakhir, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 55.000 Imbas Penguatan Dolar dan Lonjakan Biaya Energi
Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan konflik masih berlangsung. Warga Teheran yang dihubungi Reuters menggambarkan pemboman ibu kota Iran oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel sebagai salah satu yang paling sengit sejak konflik tersebut dimulai.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek menjelaskan bahwa turunnya harga minyak dari puncaknya memberikan dampak pada ekspektasi inflasi, tetapi tidak cukup tinggi untuk menghalangi peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat.
“Dengan harga minyak yang mereda dari puncaknya di atas US$ 100 per barel, inflasi masih ada dan tetap mendukung harga emas, tetapi tidak lagi cukup tinggi untuk secara serius membatasi kemampuan The Fed memangkas suku bunga,” kata Bart Melek.
Ia menambahkan investor kini semakin percaya bahwa strategi perdagangan berbasis pelemahan nilai mata uang dapat kembali menguat dalam jangka waktu tertentu.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, logam mulia ini biasanya kehilangan daya tarik ketika suku bunga naik karena tidak memberikan imbal hasil, seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Pasar saat ini juga menunggu rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Investor mencermati data indeks harga konsumen serta data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), yang dijadwalkan dirilis akhir pekan ini.
Data tersebut menjadi indikator utama inflasi yang dipantau oleh Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil dalam pertemuan kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Maret.
Baca Juga
Tertekan Dolar dan Imbal Hasil Obligasi, Harga Emas Turun Tajam 2,5%
Sementara itu, di pasar fisik global, harga emas di Dubai tercatat diperdagangkan lebih murah dibandingkan London. Kondisi ini terjadi karena pembatasan penerbangan akibat konflik regional membuat lebih banyak emas batangan tertahan di pasar lokal, sementara permintaan di kawasan tersebut masih relatif lemah.
Pergerakan logam mulia lainnya juga menunjukkan tren beragam. Harga perak spot naik 2,7% menjadi US$ 89,39 per ons, sedangkan platinum spot menguat 2,2% menjadi US$ 2.229,15 per ons. Di sisi lain, harga paladium justru turun 0,9% menjadi US$ 1.675,50 per ons.

