Harga Emas Dekati Puncak 4 Minggu karena Ketegangan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik mendekati level tertinggi dalam satu bulan pada Jumat (27/2/2026) dan mencatat kenaikan selama tujuh bulan berturut-turut, didorong ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta turunnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset aman.
Kenaikan tersebut terjadi setelah mediator Oman melaporkan kemajuan dalam pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran pada Kamis (26/2/2026), meski negosiasi berakhir tanpa terobosan yang dapat mencegah potensi serangan militer. Di saat bersamaan, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level terendah dalam tiga bulan, sehingga menurunkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 5.230,56 per ons, sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari pada awal sesi. Sepanjang Februari, harga telah menguat 7,6%. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup naik 1% ke level US$ 5.247,90 per ons.
Baca Juga
Kepala Ahli Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan pasar dipenuhi kecemasan geopolitik yang memicu aksi lindung nilai. “Ada banyak kegelisahan seputar geopolitik, semua persiapan menunjukkan kemungkinan besar akan terjadi operasi militer selama akhir pekan, jadi ini adalah aksi penghindaran risiko dan pencarian aset yang aman,” ujar dia dikutip CNBC.
Ketegangan meningkat setelah Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengizinkan staf non-esensial dan keluarga mereka meninggalkan Israel dengan alasan risiko keamanan. Langkah itu memperkuat sentimen pasar bahwa eskalasi konflik dapat terjadi sewaktu-waktu.
Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS turut menopang harga emas. Ketika imbal hasil turun, emas menjadi lebih menarik karena investor tidak kehilangan potensi pendapatan bunga yang signifikan. Streible memperkirakan target kenaikan harga emas berikutnya berada di kisaran US$ 5.450 dengan level support kunci di dekat US$ 5.120.
Tekanan inflasi juga menjadi faktor pendukung. Data menunjukkan harga produsen AS pada Januari meningkat lebih tinggi dari perkiraan, memberi sinyal inflasi berpotensi menguat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini mendorong spekulasi bahwa kebijakan suku bunga dapat berubah.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 42% bagi bank sentral AS untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni. Ekspektasi pelonggaran moneter biasanya memperkuat emas karena menurunkan imbal hasil riil.
Permintaan fisik juga menunjukkan penguatan. Data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong mencatat impor emas bersih Tiongkok melalui Hong Kong pada Januari melonjak 68,7% dibanding Desember. Tiongkok merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia.
Baca Juga
Pada saat yang sama, bank sentral China mengambil langkah untuk menahan penguatan yuan dengan menghapus aturan cadangan risiko untuk kontrak berjangka valuta asing. Kebijakan tersebut mendorong pembelian dolar AS yang lebih besar dan berpotensi memengaruhi arus modal global.
Selain emas, harga perak spot melonjak 4,8% menjadi US$ 92,60 per ons dan bersiap mencatat kenaikan bulanan 9,7%. Harga platinum spot naik 3,4% menjadi US$ 2.350,34 per ons, sedangkan paladium turun 0,5% menjadi US$ 1.775,31 per ons. Meski paladium melemah pada sesi terakhir, kedua logam tersebut tetap berada di jalur kenaikan bulanan.

