Inflasi AS dan Geopolitik Dorong Emas Tembus US$ 5.200
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat pada Rabu (25/2/2026) seiring lonjakan permintaan di tengah kekhawatiran inflasi akibat tarif impor Amerika Serikat (AS) dan memanasnya kembali ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran. Hal ini mendorong investor melakukan lindung nilai dan menjaga tren kenaikan logam mulia tahun ini.
Harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 5.202,28 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman April ditutup sekitar 1% lebih tinggi di US$ 5.226,20. Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar merespons kombinasi risiko inflasi dan ketidakpastian global.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan tekanan harga energi dan kebijakan tarif berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. “Ada dampak inflasi dari tarif dan harga minyak yang tinggi, terutama jika serangan sudah dekat, dan saya pikir ada juga beberapa lindung nilai oleh investor, yang mungkin beralih ke emas,” ujar Bart dilansir CNBC.
Kebijakan tarif kembali menjadi sorotan setelah Pemerintah Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% pada Selasa (24/2/2026). Seorang pejabat Gedung Putih menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mengkaji kenaikan tarif menjadi 15%.
Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa hampir semua negara dan perusahaan ingin mempertahankan perjanjian tarif dan investasi yang ada dengan Washington.
Baca Juga
Harga Emas Naik 2% ke Level Tertinggi 3 Minggu Seusai Trump Naikkan Tarif Impor
Ia juga menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sekaligus membuka peluang langkah militer jika diperlukan. Di sisi lain, Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa.
Rekor dan Prospek Harga
Emas selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat. Instrumen ini tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, tetapi cenderung menguat ketika suku bunga rendah dan tekanan inflasi naik.
Pada 29 Januari 2026, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 5.594,82 per ons. Sepanjang tahun berjalan, logam mulia ini telah naik sekitar 20%, mencerminkan kuatnya arus dana ke instrumen safe haven.
Bank of America dalam riset terbarunya menilai laju penambahan eksposur investor terhadap emas mulai melambat. Meski demikian, ketidakpastian tarif dapat membatasi potensi koreksi harga.
“Para investor telah memperlambat laju peningkatan eksposur mereka terhadap emas. Oleh karena itu, kami memperhitungkan periode potensi penurunan harga emas hingga musim semi, meskipun ketidakpastian tarif yang kembali muncul dapat membuat periode konsolidasi relatif singkat,” tulis bank tersebut.
Bank of America memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$ 6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan.
Baca Juga
Harga Emas Naik 2% ke Level Tertinggi 3 Minggu Seusai Trump Naikkan Tarif Impor
Kenaikan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak melonjak 3,9% menjadi US$ 90,73 per ons, level tertinggi dalam tiga minggu. Sebelumnya pada 29 Januari, perak sempat menyentuh rekor US$ 121,64 per ons. Bank of America mencatat perak berpotensi kembali menembus US$ 100 per ons tahun ini apabila momentum permintaan industri dan investasi tetap terjaga.
Sementara itu, harga platinum spot naik 7,1% menjadi US$ 2.320,90 per ons, tertinggi sejak 29 Januari. Paladium juga menguat 2,6% menjadi US$ 1.814,41 per ons.
Penguatan serentak logam mulia menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi risiko inflasi dan geopolitik global, sekaligus mencari instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS.

