Emas Naik Sentuh US$ 5.160 dan Perak Melonjak 5% Seusai Putusan MA AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dan perak dunia naik tajam pada Senin (23/2/2026) setelah investor mencermati potensi kebijakan tarif baru dari Gedung Putih menyusul putusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) yang membatalkan tarif global luas era Presiden Donald Trump. Hal ini memicu arus beli aset lindung nilai di tengah ketidakpastian perdagangan dan geopolitik.
Harga emas spot melonjak 1,61% menjadi US$ 5.160 per ons pada perdagangan Asia, sementara perak melesat 5% ke level US$ 86 per ons. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan safe haven di tengah dinamika kebijakan perdagangan dan tensi global.
MA Amerika Serikat memutuskan bahwa Donald Trump melampaui kewenangannya dengan menggunakan kekuasaan darurat federal untuk menerapkan tarif timbal balik secara luas, termasuk bea impor yang ditargetkan. Putusan itu secara efektif membatalkan sebagian besar pungutan yang diperkenalkan selama masa jabatan keduanya.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Naik Rp 38.000, Ini Pemicu Utamanya
Merespons hal itu, Trump menyatakan akan menyiapkan mekanisme alternatif guna menggantikan tarif yang dibatalkan. Meski Konstitusi Amerika Serikat memberikan kewenangan pemungutan pajak dan bea kepada Kongres, legislator sebelumnya telah mendelegasikan sebagian kewenangan terbatas kepada cabang eksekutif melalui sejumlah undang-undang.
Trump mengatakan akan memperkenalkan tarif global 10% berdasarkan Pasal 122 di luar bea masuk yang sudah berlaku. Ia juga menegaskan tarif keamanan nasional berdasarkan Pasal 232 serta langkah-langkah Pasal 301 tetap diberlakukan penuh.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik ikut memicu lonjakan harga logam mulia. Angkatan Bersenjata AS menempatkan aset militer signifikan di Timur Tengah, sementara Trump memperingatkan Iran memiliki waktu sekitar 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.
Potensi serangan besar AS terhadap Iran menimbulkan kekhawatiran Washington dapat terseret konflik regional besar lainnya. Risiko tersebut dinilai meningkatkan ketidakpastian global, terutama setelah AS beberapa kali terlibat intervensi militer besar sejak 1991.
Kepala Riset Komoditas Geojit Investments Limited, Hareesh V mengatakan penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi suku bunga dapat sementara membatasi kenaikan harga. Namun, ia menilai ketegangan yang berlanjut akan menjaga minat investor terhadap aset lindung nilai tetap tinggi.
“Investor biasanya beralih ke emas dan perak selama konflik geopolitik karena logam-logam ini mempertahankan nilainya, mengurangi paparan terhadap volatilitas pasar, dan berfungsi sebagai lindung nilai yang dapat diandalkan ketika mata uang dan pasar keuangan menghadapi ketidakpastian,” kata Hareesh.
Sementara itu, CEO Enrich Money Ponmudi R menilai tren naik emas secara keseluruhan masih utuh. Ia mengatakan pelemahan sebelumnya lebih mencerminkan aksi ambil untung dan fase konsolidasi yang sehat setelah reli panjang.
“Minat beli yang kuat terlihat di rentang support US$ 4.500–US$ 4.700, dan stabilitas berkelanjutan di atas zona ini dapat membuka jalan bagi momentum kenaikan yang baru. Penembusan di atas US$ 5.100–US$ 5.200 akan membuka jalan menuju pengujian ulang rekor tertinggi,” ujar Ponmudi.
Untuk perak, Ponmudi menyebut struktur bullish jangka panjang masih terjaga meski tekanan jangka pendek meningkat setelah harga turun di bawah rata-rata pergerakan utama. Ia menilai koreksi saat ini membuka peluang akumulasi jika level kunci mampu dipertahankan.
Baca Juga
Harga Emas Diprediksi Naik Rp 138.000 per Gram Pekan Depan, Ini Pemicunya
“Minat beli yang kuat terlihat di kisaran support US$ 65–US$ 70. Bertahannya harga di atas level ini, diikuti pemulihan dan penutupan di atas US$ 85–US$ 92, dapat menghidupkan kembali momentum kenaikan menuju US$ 95–US$ 105 dan berpotensi menguji ulang level tertinggi sebelumnya. Prospek jangka menengah hingga panjang tetap konstruktif, didukung permintaan industri yang stabil dan kendala pasokan struktural, meskipun volatilitas meningkat,” kata Ponmudi.
Emas dan perak selama ini dikenal sebagai aset safe haven, yakni instrumen yang cenderung diburu investor saat risiko pasar meningkat. Dengan ketidakpastian kebijakan perdagangan dan tensi geopolitik yang belum mereda, pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari Washington yang berpotensi menentukan arah harga logam mulia dalam waktu dekat.

