Bagikan

Harga Emas Diprediksi Naik Rp 138.000 per Gram Pekan Depan, Ini Pemicunya

Poin Penting

Harga logam mulia Antam diprediksi melonjak hingga Rp138.000 per gram menuju level Rp3.150.000 pada pekan depan.
Kenaikan dipicu memanasnya tensi militer di Timur Tengah, ketidakpastian politik di AS, serta potensi pelemahan nilai tukar rupiah.
Kelangkaan pasokan akibat menipisnya cadangan produksi di 80 perusahaan tambang dunia pada 2028 diprediksi akan terus mengerek harga emas.

JAKARTA, investortrust.id – Harga emas dunia dan logam mulia (LM) lainnya diprediksi menguat pekan depan. Harga emas Antam atau logam mulia berpotensi naik hingga Rp 138.000 per gram. Pemicunya beragam.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuhaibi memaparkan, pada penutupan perdagangan Sabtu (21/2/2026) pagi, harga emas dunia berada di level US$ 5.103 per troy ons, sedangkan harga logam mulia berada di posisi Rp 3.012.000 per gram.

"Kemungkinan besar harga emas naik cukup signifikan dari Rp 3.012.000 per gram menjadi Rp 3.150.000 per gram. Jadi, ada kemungkinan besar kenaikannya itu Rp 138.000 atau 4,6% dalam minggu depan," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).

Baca Juga

Emas Antam (ANTM) Makin Kinclong di Tengah Drama Global

Ibrahim menyebutkan, kenaikan harga emas antara lain didorong memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian politik di Amerika Serikat (AS).

Kabar mengenai komunikasi intens antara Perdana Menteri Israel dan Presiden AS Donald Trump memicu spekulasi serangan terhadap Iran.

"Ada dua kapal induk Amerika yang sudah merapat di Timur Tengah. Ini mengindikasikan Amerika serius melakukan penyerangan terhadap Iran. Iran pun juga telah menyiapkan pasukannya untuk melakukan perlawanan apabila Amerika dan Israel melakukan penyerangan. Ini kemungkinan besar akan terjadi perang jangka panjang," ujar dia.

Menurut Ibrahim Assuhaibi, jika itu terjadi, pasokan minyak mentah dunia akan terganggu. Kondisi tersebut memicu inflasi tinggi yang otomatis mendorong kenaikan harga emas.

Baca Juga

Harga Emas Stabil di Tengah Ketegangan AS-Iran, Pasar Tunggu Data Inflasi

Selain geopolitik, kata dia, kondisi internal AS turut memperkeruh suasana. Keputusan Mahkamah Agung (MA) AS yang menyatakan kebijakan tarif resiprokal Trump ilegal, serta polemik pemecatan independensi pejabat bank sentral ikut menambah ketidakpastian pasar.

Dari sisi fundamental, Ibrahim menyoroti masalah supply dan demand. Sebanyak 80 perusahaan tambang dunia diprediksi kehabisan cadangan produksi pada 2028, padahal permintaan terus melonjak. Kelangkaan barang di tengah tingginya permintaan ini bakal menjadi motor utama kenaikan harga emas dalam jangka panjang.

"Kemudian rupiah juga akan melemah dan ini akan berdampak terhadap penguatan harga logam mulia," tutur dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024