Terungkap! Impor LPG RI dari AS Naik Jadi 70%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan porsi impor liquefied petroleum gas (LPG) dari Amerika Serikat (AS) mencapai angka 70%. Angka ini meningkat dari yang sebelumnya 57%.
“LPG Pertamina selama ini mengimpor porsi yang cukup besar dari Amerika Serikat, kurang lebih sekitar 57%. Nah dengan adanya kesepakatan dagang ini tentunya kita akan bisa meningkatkan, bisa sampai ke 70%,” kata Simon dalam konferensi pers, Jumat (20/2/2026).
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia akan mengimpor komoditas energi senilai US$ 15 miliar dari AS sebagai bagian dari implementasi kesepakatan dagang bilateral yang tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Dalam dokumen tersebut, Indonesia akan mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial pembelian energi dari AS yang mencakup impor LPG senilai US$ 3,5 miliar, minyak mentah (crude oil) US$ 4,5 miliar, serta bensin olahan (BBM) senilai US$ 7 miliar.
“Pertamina juga menjadi salah satu bagian dari kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia, di mana kita telah menyepakati untuk melakukan impor energi sebesar US$ 15 miliar. Dapat kami sampaikan di sini bahwa skema impor adalah sebagai jembatan kita menuju kepada kemandiran energi,” ucap Simon.
Baca Juga
Bahlil Pastikan Impor BBM dan LPG US$ 15 Miliar dari AS Tidak Tambah Volume Impor RI
Dia tidak memungkiri bahwa saat ini Indonesia masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri, sehingga mmebutuhkan bantuan negara lain (impor). Menurutnya, adalah hal yang penting juga untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Untuk memenuhi gap (supply-demand) saat ini tentunya kita masih membutuhkan impor. Untuk menjamin ketahanan energi, kita juga perlu untuk diversifikasi sumber, baik sumber dari crude atau pun dari produk yang kita butuhkan di dalam negeri. Jadi kita juga harus memperbanyak sumber supaya kita memastikan memperoleh harga yang paling kompetitif,” sebut Simon.
Lebih lanjut, Simon menyampaikan beberapa catatan penting yang perlu digarisbawahi terkait rencana untuk impor energi dari AS. Pertama, teknis yang dilakukan adalah business as usual, seperti yang sudah dijalankan Pertamina selama ini.
“Yang kami jalankan selama ini tentunya proses ini akan melalui mekanisme tender dan bidding. Jadi tidak ada penunjukan langsung, tetapi seperti biasa mekanisme tender dan bidding yang tentunya terbuka,” tegas Simon.
Selanjutnya, Pertamina juga telah melakukan sosialisasi tentang persyaratan sekaligus prosedur untuk menjadi bagian dari mitra mereka. Proses ini juga dilakukan secara terbuka dan transparan.
“Semua proses kita lakukan secara terbuka untuk menjamin semua aturan dengan baik. Kemarin kedua pimpinan negara menyampaikan bahwa perjanjian kerja sama ini adalah untuk win-win. Jadi untuk kebaikan dan kemajuan kedua negara. Dengan demikian kedua negara sangat menghormati regulasi dan aturan yang berlaku di masing-masing negara,” ujarnya.

