Harga Emas Menguat Jelang Risalah The Fed, Pasar Tunggu Arah Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas kembali menguat dalam perdagangan Rabu (18/2/2026) karena investor menunggu risalah rapat kebijakan terbaru bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), inflasi inti, serta pidato pejabat moneter untuk membaca arah suku bunga.
The Fed akan merilis risalah rapat kebijakan hari ini, sementara data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi acuan, dijadwalkan keluar Jumat (20/2/2026).
Dilansir Reuters, kontrak berjangka emas April di Comex sempat pulih US$ 84 per troy ounce setelah sebelumnya melemah dan mencapai puncak harian US$ 4.989, tetapi masih tertahan di bawah level psikologis US$ 5.000.
Dalam perdagangan sebelumnya, harga emas turun hampir 3% akibat penguatan dolar AS dan meredanya ketegangan geopolitik global.
Prospek kebijakan moneter dinilai masih tidak pasti setelah data pasar tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan dan inflasi tetap rendah pada pekan lalu. Pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama terjadi pada Juni, berdasarkan indikator FedWatch milik CME.
Presiden Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan beberapa lagi pemangkasan suku bunga tahun ini jika inflasi bergerak menuju target 2%. Sementara Gubernur The Fed, Michael Barr, menilai pelonggaran kebijakan masih mungkin dilakukan ke depan.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Tuntaskan First Gold Pour di Tambang Pani Lebih Cepat, Produksi Resmi Dimulai
Dari sisi geopolitik, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mencapai kesepahaman awal mengenai prinsip pembicaraan nuklir, yang ikut meredakan tekanan terhadap pasar logam mulia.
Harga perak ikut bergerak naik dalam perdagangan yang sama. Kontrak perak Maret di Comex bertambah US$ 3,4 per ons ke level tertinggi harian US$ 76,93 setelah sebelumnya sempat terkoreksi US$ 4,42.
CEO Enrich Money, Ponmudi R, menjelaskan harga emas COMEX diperdagangkan di kisaran US$ 4.850 hingga US$ 5.100 setelah mengalami koreksi tajam dari level tertinggi sebelumnya di atas US$ 5.500 hingga US$ 5.600. Ia menilai tren kenaikan jangka panjang masih terjaga, sementara penurunan belakangan lebih mencerminkan aksi ambil untung dan fase konsolidasi harga.
Ponmudi melihat minat beli kuat muncul pada rentang support US$ 4.500 hingga US$ 4.700. Stabilitas di atas zona tersebut dinilai dapat menjadi fondasi bagi momentum kenaikan berikutnya, terutama jika harga mampu menembus kisaran US$ 5.100 hingga US$ 5.200 untuk menguji kembali rekor tertinggi.
Pada komoditas perak, ia menyebut harga masih bergerak di area US$ 73 hingga US$ 80 setelah terkoreksi dari rekor di atas US$ 121. Struktur bullish jangka panjang tetap bertahan, meski tekanan bearish jangka pendek muncul akibat penurunan tajam yang membawa harga di bawah rata-rata pergerakan utama.
Ia menambahkan minat beli juga terlihat kuat pada rentang support US$ 65 hingga US$ 70 yang bertepatan dengan titik terendah sebelumnya dan garis tren jangka panjang.
Baca Juga
Aksi Jual Tekan Harga Emas Antam (ANTM), Investor Menanti Risalah FOMC
“Jika harga bertahan di atas level dasar ini, diikuti pemulihan dan penutupan di atas US$ 85–US$ 92, momentum kenaikan bisa kembali terbentuk menuju US$ 95–US$ 105 dan berpotensi menguji ulang level tertinggi sebelumnya,” ujar Ponmudi.
Ia menilai prospek jangka menengah hingga panjang masih konstruktif, ditopang permintaan industri yang stabil dan keterbatasan pasokan, meski volatilitas pasar diperkirakan meningkat.

