Dari Nikel ke Baterai, Hilirisasi Bikin Tambang Naik Kelas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi menjadi mesin pencipta nilai baru bagi BUMN tambang ketika pemerintah mempercepat proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) terintegrasi dari hulu ke hilir senilai US$ 7 hingga US$ 8 miliar atau setara Rp 109,9 triliun hingga Rp 125,6 triliun untuk mengubah komoditas mentah menjadi aset industri bernilai tinggi.
Pemerintah melalui sinergi Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia, dan konsorsium Huayou mempercepat pembangunan rantai industri baterai kendaraan listrik terintegrasi. Program ini diarahkan untuk memperkuat hilirisasi mineral sekaligus mengintegrasikan rantai pasok dari smelter hingga manufaktur baterai.
Pemerintah menilai proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas fisik, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan nilai tambah industri. Transformasi dari ekspor bahan mentah ke produk bernilai tinggi dinilai mampu meningkatkan margin sektor tambang, memperkuat daya saing manufaktur, serta mendongkrak valuasi industri nasional di pasar global.
Baca Juga
Awal Tahun Positif, Produksi Migas Pertamina EP Sangasanga Tembus 104,02% Target
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir. “Pengembangan mencakup seluruh tahapan industri, mulai pertambangan nikel, fasilitas pemurnian, hingga manufaktur baterai,” kata Bahlil Lahadalia dikutip, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan rantai industri mencakup smelter dan fasilitas high pressure acid leaching (HPAL), teknologi pengolahan nikel kadar rendah dengan tekanan dan suhu tinggi, kemudian dilanjutkan dengan produksi precursor, katoda, hingga sel baterai kendaraan listrik.
Pemerintah melanjutkan pengembangan fasilitas baterai yang sebelumnya telah beroperasi sejak 2023 dengan kapasitas awal 10 gigawatt. Kapasitas tersebut direncanakan meningkat melalui tambahan 20 gigawatt untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.
“Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil.
Ia menilai integrasi rantai pasok mineral hingga produk akhir akan menciptakan dampak ekonomi luas, mulai peningkatan nilai tambah mineral, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga penguatan ketahanan energi nasional.
Dalam proyek ini, pasokan bahan baku nikel berasal dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam melalui kerja sama dengan konsorsium. Pemerintah menargetkan kepemilikan mayoritas proyek tetap berada di tangan negara dengan porsi di atas 50% atau berkisar 60% hingga 70%. “Ini implementasi Pasal 33. Kekayaan alam harus dikelola negara dan diprioritaskan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujarnya.
Baca Juga
Hilirisasi Baterai Karawang Perkuat Nilai Tambah BUMN Tambang
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation Aditya Farhan Arif menyampaikan kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi sekaligus memperkuat penguasaan teknologi baterai nasional. Ia menjelaskan proyek tidak hanya berfokus pada pembangunan kapasitas produksi, tetapi juga diarahkan untuk mempercepat transfer teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
“Sejak awal, misi utama IBC adalah menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kerja sama dengan Huayou ini merupakan kelanjutan dari proyek Titan, setelah sebelumnya bersama LG. Kami ingin memastikan bahwa hilirisasi ini benar-benar memberikan nilai tambah optimal bagi Indonesia,” kata Aditya.

