Hilirisasi Baterai Karawang Perkuat Nilai Tambah BUMN Tambang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi tambang menjadi mesin pencipta nilai tambah baru ketika negara melalui pemegang saham industri tambang mempercepat pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, yang mengubah komoditas mineral mentah menjadi aset industri bernilai tinggi dan memperkuat daya saing jangka panjang.
Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia (BPI Danantara), lembaga pengelola investasi negara, mengawal peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam pengembangan industri baterai sebagai bagian strategi hilirisasi nasional. Agenda ini diarahkan untuk menciptakan nilai tambah berkelanjutan melalui smelter serta integrasi rantai pasok industri kendaraan listrik (electrical vehicle/EV).
Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan industrialisasi berbasis teknologi. Dalam kerangka ini, MIND ID melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI), perusahaan pengembang ekosistem baterai nasional, menggandeng konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, dan Lygend atau CBL untuk membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery sebagai penggerak rantai nilai baterai terintegrasi.
Managing Director Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto menyatakan negara hadir untuk mendorong pembentukan industri strategis berbasis teknologi yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Proyek Baterai EV Rp 125,6 Triliun Jadi Jurus Hilirisasi Pemerintah
"Melalui inisiatif strategis ini, Indonesia tidak hanya memperkuat kapasitas manufaktur baterai nasional, tetapi juga membangun penguasaan teknologi, peningkatan kapabilitas SDM, serta integrasi sistem industri hulu dan hilir kendaraan listrik. Dengan demikian, penciptaan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan bagi Indonesia dapat terwujud,” ujar Dwi dalam keterangannya, Sabtu (15/2/2026).
Pada momentum yang sama, MIND ID, PT IBI, dan Contemporary Amperex Technology Co., Limited atau CATL menandatangani kerja sama riset dan pengembangan produk baterai, energi terbarukan, serta mobilitas listrik. Kesepakatan tersebut ditujukan memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai global sekaligus mempersiapkan peluncuran komersial rantai nilai baterai terintegrasi pada 2028.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menilai kolaborasi strategis menjadi jembatan bagi holding tambang dalam mengubah sumber daya alam menjadi platform industri bernilai tambah.
“Kami akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, guna memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan Masyarakat,” katanya.
Sejalan dengan itu, Direktur Utama PT IBI Aditya Farhan Arif menegaskan komitmen perseroan dalam memastikan industri baterai nasional tumbuh terintegrasi dan berdaya saing global. "PT IBI berkomitmen memastikan pengembangan ekosistem baterai nasional berjalan secara konsisten dari tahap perencanaan hingga implementasi," kata dia.
Kemajuan proyek PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery dinilai mencerminkan kesiapan infrastruktur, teknologi, serta kolaborasi strategis dalam membangun industri baterai yang kompetitif dan berkelanjutan.
"Penandatanganan MoU adalah cerminan komitmen agar keberadaan industri baterai nasional dapat berkontribusi pada peningkatan kepakaran Indonesia di bidang material maju untuk energi, khususnya teknologi baterai,” tambah Aditya.
Baca Juga
CBL Perkuat Komitmen Bangun Ekosistem Baterai EV Terintegrasi di Indonesia
Pengembangan fasilitas produksi dilakukan secara terintegrasi di kawasan Artha Industrial Hills, Kabupaten Karawang, dengan luas 43 hektare. Proyek ini mencakup pembangunan pabrik battery cells, module, dan pack yang dirancang mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional.
Fasilitas module dan pack telah memasuki tahap instalasi peralatan manufaktur yang rampung pada Januari 2026, setelah sebelumnya peletakan batu pertama dihadiri Presiden Prabowo Subianto pada Juni 2025. Fasilitas ini menjadi inti perakitan baterai melalui sistem otomatis untuk menghasilkan produk siap pakai bagi industri kendaraan listrik.
Sementara itu, pembangunan cell plant masih berlanjut untuk memproduksi unit dasar sel baterai yang kemudian dirakit menjadi modul dan paket baterai untuk kendaraan listrik serta aplikasi energi lainnya.
Pabrik baterai tersebut dirancang memiliki kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama dan akan diperluas hingga 15 GWh pada fase kedua. Seluruh fasilitas ditargetkan mulai beroperasi komersial pada akhir 2026.

