Pertambangan Didorong Jadi Motor Pembangunan Regional Berkelanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Industri pertambangan sebagai penggerak utama pembangunan regional berkelanjutan melalui peran katalis dan transformasi ekonomi daerah, seiring meningkatnya tuntutan tata kelola, environmental, social, and governance (ESG), serta penguatan SDM untuk menghadapi hilirisasi dan transisi energi.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Workshop Mining for Journalist yang melibatkan para pakar dan pengurus Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), yang menyoroti arah pembangunan sektor tambang agar tidak hanya menjadi penopang ekonomi jangka pendek, tetapi juga pendorong perubahan struktur ekonomi daerah.
Dewan Pakar Perhapi Andi Erwin Syarif menegaskan kembali posisi industri pertambangan sebagai prime mover pembangunan nasional dan regional. Ia menilai keberlanjutan sektor ini perlu dipahami dalam dua dimensi, yakni sebagai katalis dan sebagai instrumen transformasi ekonomi.
“Industri pertambangan harus dilihat sebagai katalis, bukan penopang untuk pembangunan regional jangka panjang. Kemudian juga transformatif bahwa pertambangan bukan tujuan tetapi alat dalam perspektif pembangunan regional yang berkelanjutan,” pungkas Andi Erwin Syarif dikutip Jumat (13/2/2026).
Baca Juga
Hilirisasi Tambang Dorong Nilai Tambah, Peran MIND ID dan Perminas Dibedakan
Ia menjelaskan pendekatan tersebut mendorong daerah penghasil tambang untuk membangun sektor ekonomi baru, meningkatkan nilai tambah, dan mengurangi ketergantungan terhadap komoditas mentah dalam jangka panjang.
Sementara perkembangan ESG dibahas sebagai faktor yang semakin menentukan keberlanjutan industri tambang. Prinsip ESG merujuk pada standar lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang menjadi rujukan investor global.
Keberlanjutan Tambang
Ketua Pokja Penyusunan ESG Nikel Perhapi Tonny Gultom menilai implementasi ESG tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang yang memengaruhi daya tarik investasi sektor tambang nasional.
“Industri pertambangan beroperasi dalam lingkungan yang sangat kompleks. Tangung jawab sosial dan tata kelola berkelanjutan sangat penting untuk keberlanjutan. Prinsip ESG dalam industri pertambangan tidak hanya meningkatkan keberlanjutan lingkungan dan sosial, tetapi juga meningkatkan citra positif dan menarik investor,” kata Tony.
Perhapi juga menyoroti dorongan menuju ekonomi hijau di sektor pertambangan melalui pendekatan pemanfaatan kembali wilayah bekas tambang dan penguatan ekonomi masyarakat sekitar. Konsep ekonomi hijau pertambangan mencakup pemanfaatan area pascatambang, program pemberdayaan masyarakat (PPM), serta optimalisasi dana bagi hasil (DBH) pertambangan untuk pembangunan daerah.
Ketua Bidang Kajian Pasca-Tambang dan Ekonomi Hijau Pertambangan Perhapi Budi Hartono menjelaskan Perhapi telah menyusun buku Ekonomi Hijau Pertambangan sebagai kajian yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lingkar tambang dan memperkuat keberlanjutan pembangunan daerah berbasis sumber daya alam.
Baca Juga
Pengamat Sebut MIND ID Barometer Nasional Penerapan K3 Tambang
Sementara itu, penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kunci menjaga tata kelola pertambangan yang aman dan berkelanjutan di tengah perubahan industri. Tantangan hilirisasi, transisi energi, dan meningkatnya kompleksitas teknologi mendorong kebutuhan kompetensi baru di sektor ini.
Ketua Badan Kejuruan Pertambangan Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII) Rizal Kasli menekankan peningkatan profesionalisme dan kompetensi insinyur sebagai fondasi utama tata kelola pertambangan modern, termasuk melalui penerapan standar keinsinyuran, sertifikasi profesi, dan pengembangan kapasitas berkelanjutan.
Ia menilai langkah tersebut penting agar industri tambang nasional mampu beradaptasi terhadap perubahan global sekaligus menjaga aspek keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional.

