Hilirisasi Tambang Dorong Nilai Tambah, Peran MIND ID dan Perminas Dibedakan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi menjadi mesin pencipta nilai baru bagi badan usaha milik negara (BUMN) sektor tambang, seiring langkah Mining Industry Indonesia (MIND ID) mengubah komoditas mentah menjadi aset industri bernilai tinggi melalui pembangunan smelter bauksit, nikel, dan tembaga serta integrasi rantai pasok.
Strategi ini dipandang berdampak pada margin, daya saing global, dan valuasi jangka panjang, sekaligus membedakan peran MIND ID dengan pembentukan entitas baru PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) untuk fokus mineral kritis.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan pembentukan Perminas dimaksudkan untuk mengelola komoditas mineral kritis yang belum sepenuhnya berada dalam lingkup kerja holding tambang, sementara MIND ID berfokus pada pengelolaan sumber daya dan hilirisasi industri.
Baca Juga
Istana Pastikan Target Komoditas Perminas dan MIND ID akan Berbeda
Pembentukan Perminas dilakukan meski telah ada holding industri pertambangan, karena mandat kedua entitas berbeda. MIND ID diarahkan memperkuat hilirisasi dan pengelolaan sumber daya, sedangkan Perminas fokus pada pengamanan dan pengembangan mineral kritis. “Ya pasti dong, pasti berbeda,” kata Prasetyo, di Wisma Danantara, Jakarta, dikutip Rabu (12/1/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah menilai kebutuhan mineral kritis meningkat seiring transisi energi dan industrialisasi, sehingga diperlukan entitas yang secara khusus mengelola komoditas tersebut. “Mineral banyak ya, sudah ada yang dikelola, sudah ada perusahaan. Ini khusus untuk mineral kritis,” kata dia.
Prasetyo menyebut pemerintah telah menentukan sejumlah wilayah pertambangan sebagai bagian dari strategi tersebut. Selain Martabe di Sumatra Utara, terdapat wilayah lain yang belum diungkap karena alasan strategis. “Karena strategis tadi, enggak perlu diomongin,” jelas dia.
Meski terdapat irisan, pemerintah menekankan perbedaan orientasi. MIND ID difokuskan pada penguatan industri hilir dan pengelolaan aset tambang yang telah berjalan, sedangkan Perminas diarahkan mencari, mengamankan, dan mengembangkan mineral kritis baru yang belum terkelola optimal.
Pendekatan ini dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain industri berbasis mineral bernilai tinggi. Hilirisasi menjadi narasi utama penciptaan nilai, bukan sekadar proyek fisik pembangunan fasilitas.
Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri
MIND ID selama ini bergerak dalam pengelolaan sumber daya tambang sekaligus penguatan hilirisasi melalui pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter. Anggota holding ini terdiri atas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Timah Tbk (TINS).
Komoditas yang dikelola, meliputi aluminium, bauksit, batu bara, tembaga, feronikel, emas, bijih nikel, logam timah, dan tin solder. Hilirisasi dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat struktur industri domestik, serta mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Baca Juga
Langkah tersebut terlihat dari pengembangan smelter bauksit, nikel, dan tembaga yang terintegrasi dengan rantai pasok industri hilir, mulai dari bahan baku hingga produk antara yang siap masuk industri manufaktur. Integrasi ini dinilai meningkatkan efisiensi, margin, serta daya saing global perusahaan.
Di tengah meningkatnya permintaan global atas logam strategis untuk kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi digital, sinergi antara MIND ID dan Perminas dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri tambang nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

