Sentra Garam Raksasa di Rote Capai 13.000 Ha, Pemerintah Ajak Swasta Ikut Garap
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah telah menetapkan strategi percepatan pembangunan industri garam nasional melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pergaraman. Salah satu fokus utama kebijakan tersebut adalah pengembangan kawasan sentra industri garam nasional di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjelaskan, potensi kawasan di Rote yang akan dijadikan kawasan industri garam nasional adalah seluas 10.000 hingga 13.000 hektare (Ha). Saat ini, pemerintah akan mengembangkan zona 1 dan 2 dengan luas 1.025 Ha dan 899,54 Ha.
"Dari sekian itu, sekarang ini modeling pemerintah akan mengembangkan di tahap 1 dan tahap 2 mulai dari 2025 kemarin, nanti akan kita lanjutkan di 2026," ucap Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita saat konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga
Impor Garam Masih Dominan, RI Kejar Defisit 3 Juta Ton demi Swasembada di 2027
Dengan begitu, sisa kawasan sentra garam yang belum tergarap tersebut akan ditawarkan pemerintah kepada para pengusaha atau pihak swasa untuk mengelolanya. Salah satu perusahaan yang disoroti Frista adalah yang bergerak di industri makanan dan minuman, sehingga turut terlibat dalam produksi garam nasional.
"Sisanya itu nanti yang akan kita tawarkan kepada investor, industri pengguna ini yang selama ini hanya memakai saja, misalnya gitu ya, kalau boleh saya sebut merek misalnya PT Indofood, misalnya gitu atau apalah, nanti akan juga berkontribusi minimal mereka jadi bisa memenuhi kebutuhannya sendiri," ungkapnya.
Pasalnya, menurut Frista, kawasan sentra garam di Rote ini berpotensi akan memproduksi hingga 200 ton per Ha. Dengan demikian, apabila 10.000 Ha di kawasan tersebut dapat digarap, maka hasil pengembangan produksinya dapat mencapai 400.000 ton pertahun.
"Kalau dia nanti ada 10.000 ini misalnya itu dikembangkan semuanya, artinya kan dari kawasan ini insya Allah akan ada 400.000 ton per tahun dan itu tinggal ditambah sedikit maka kebutuhan (industri makanan dan minuman) ini sudah terpenuhi. Nah itu contohnya yang sekarang sedang kami kembangkan," terang Frista.

