Impor Garam Masih Dominan, RI Kejar Defisit 3 Juta Ton demi Swasembada di 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah menargetkan mencapai swasembada garam nasional pada 2027 mendatang, namun dalam mewujudkannya terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah importasi yang masih mendominasi pemenuhan kebutuhan garam domestik.
Direktur Sumber Daya Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Frista Yorhanita menjelaskan, kebutuhan garam nasional pada 2027 diperkirakan mencapai 4,9 sampai 5,2 juta ton. Sementara itu, produksi dalam negeri masih bertahan di kisaran 2 juta ton.
"Jadi angka produksi kita itu berfluktuatif rata-rata di angka 2 jutaan. Sehingga kalau tadi kita punya kebutuhan 5 juta berarti kan ada gap 3 juta yang memang belum bisa kita penuhi," ucap Frista di acara Bincang Bahari di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga
Zulhas Pastikan RI Bakal Setop Impor Semua Jenis Garam di 2027
Berdasarkan data yang dipaparkannya, tercatat sekitar 55–60% kebutuhan garam nasional, terutama untuk sektor industri, masih bergantung pada impor. Garam impor mayoritas digunakan untuk industri chlor alcali plant (CAP), makanan dan minuman, serta farmasi yang membutuhkan kadar NaCl tinggi, minimal 97% bahkan hingga 99%.
Sementara itu, kualitas garam rakyat dalam negeri rata-rata masih berada di rentang 90–94% NaCl.
"Ternyata produksi dalam negeri dari segi kuantitas maupun kualitasnya memang belum cukup optimal untuk memenuhi standar kebutuhan industri. Kita bisa lihat dari data produksi dari tahun ke tahun itu fluktuatif naik turun tergantung cuaca," terangnya.
Menurut Frista, sebagian besar produsen garam tradisional domestik amat ketergantungan pada cuaca, karena sebagian besar tambak garam mereka masih menggunakan metode evaporasi tradisional yang terbuka.
"Dan daerah-daerah sentra garam kita itu rata-rata bulan panasnya itu hanya 5-6 bulan per tahun. Sehingga itu tidak bisa sepanjang tahun berproduksi. Ini yang menjadi tantangan kita termasuk bagaimana kebijakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan seperti ini, termasuk cuaca," beber Frista.

