Meski Harga Sempat Berfluktuasi, Permintaan Emas Diproyeksi Masih Kuat pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global melonjak tajam pada awal 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global, mencetak rekor baru sekaligus memperkuat minat investor terhadap aset lindung nilai dan mendorong peluang akumulasi jangka panjang.
Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi pada Kamis (29/1/2026) di level US$ 5.594 per ounce setelah naik dari sekitar US$ 4.372 per ounce pada awal Januari, atau meningkat sekitar 24% secara year to date (ytd). Sementara harga emas di dalam negeri sempat menyentuh Rp 3,021 juta per gram dengan kenaikan sekitar 28% seiring pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 16.790 per dolar AS.
Dalam beberapa hari berikutnya, harga emas global sempat terkoreksi lebih 10% ke kisaran US$ 4.400 per ounce akibat penguatan dolar AS dan respons pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang lebih ketat. Di pasar domestik, harga emas batangan sempat turun sekitar Rp 183.000 per gram dalam 1 hari pada awal Februari 2026, mencerminkan sensitivitas terhadap dinamika global. Meski demikian, harga masih berada jauh di atas level awal 2026 sehingga tren jangka menengah tetap menunjukkan penguatan.
Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Thendra Crisnanda mengatakan koreksi jangka pendek justru memperlihatkan karakter emas sebagai aset likuid dan responsif terhadap dinamika global.
“Koreksi jangka pendek sekaligus membuka peluang akumulasi bagi konsumen yang ingin menabung untuk jangka panjang. Ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, serta arah kebijakan moneter global terus mendorong minat terhadap emas,” ujar Thendra dikutip Senin (9/2/2026).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Rebound 0,98%, Saham EMAS hingga DSSA Jadi Penopang
Dia mengatakan, kenaikan harga emas pada Januari 2026 terjadi di tengah dinamika geopolitik dan makroekonomi global yang penuh ketidakpastian. "Isu potensi government shutdown di Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik mendorong masyarakat kembali melirik emas sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang," kata dia.
Dari sisi makroekonomi, inflasi Amerika Serikat berada di kisaran 2% dengan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya. Bank Indonesia (BI) juga menjaga stabilitas nilai tukar, sementara inflasi Indonesia pada Desember 2025 tercatat 2,9% dan masih berada dalam target BI. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 sekitar 5%.
Permintaan global turut didorong pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara. Data perdagangan Swiss menunjukkan ekspor emas meningkat 27% secara bulanan pada Desember 2025, mencerminkan kuatnya permintaan. World Gold Council (WCG) mencatat hingga kuartal III 2025, Amerika Serikat memegang cadangan emas terbesar 8.133 ton, diikuti Eropa Barat 10.727 ton, Eropa Timur dan Tengah 3.985 ton, serta Tiongkok 2.303 ton.
Proyeksi Harga Emas 2026
Sejumlah institusi keuangan global menaikkan proyeksi harga emas untuk 2026. Deutsche Bank menargetkan harga mencapai US$ 6.000 per ounce, Morgan Stanley memproyeksikan skenario bullish di level US$ 5.700 per ounce.
Sementara UBS AG menaikkan target menjadi US$ 6.200 per ounce untuk periode kuartal I hingga III 2026 sebelum memperkirakan koreksi moderat ke sekitar US$ 5.900 pada akhir tahun. Goldman Sachs mempertahankan target US$ 5.400 per ounce hingga akhir 2026.
Secara umum, konsensus pasar menempatkan harga emas pada 2026 di kisaran US$ 5.000–6.000 per ounce, mencerminkan ekspektasi berlanjutnya permintaan safe haven atau aset lindung nilai serta lingkungan suku bunga riil yang relatif rendah.
Baca Juga
Saham Merdeka Copper (EMAS) Melonjak, Target Rp 7.825 Kian Terbuka
Di tengah reli harga emas global, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), perusahaan produsen dan peritel emas nasional mencatat kinerja menonjol sepanjang 2025. Saham HRTA melonjak sekitar 580% secara tahunan dari Rp 328 per saham menjadi Rp 2.150 per saham pada penutupan akhir 2025 dengan valuasi sekitar 14 kali price to earnings.
Kinerja tersebut mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental dan prospek pertumbuhan HRTA. Saat pasar saham domestik mengalami tekanan termasuk akibat penyesuaian indeks MSCI yang sempat melemahkan indeks harga saham gabungan (IHSG), saham HRTA menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan pasar secara keseluruhan.
“Dengan fundamental yang terjaga dan ekosistem bisnis emas yang semakin terintegrasi, kami melihat momentum harga emas saat ini sebagai peluang untuk memperkuat peran HRTA dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik, baik untuk investasi, konsumsi, maupun ekosistem emas nasional,” tambah Thendra.
Harga terbaru HRTA Gold per Senin (9/2/2026) pukul 13.17 WIB tercatat Rp 2.926.000 per gram.

