Purbaya Nyatakan Siap Perkuat Industri Galangan Kapal yang Dinilai 'Under Utilized'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Industri galangan kapal nasional dinilai memiliki kemampuan besar untuk berkembang sebagai salah satu pilar manufaktur strategis, namun hingga kini masih belum dimanfaatkan secara optimal karena minimnya kesempatan. Kondisi ini menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, membuat kapasitas industri ini tertahan, di tengah tingginya kebutuhan kapal domestik.
“Industri kita sebenarnya punya kemampuan, tapi under utilized karena tidak diberi kesempatan di dalam negeri,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam seminar Revitalisasi Galangan Kapal dan Pelayaran Indonesia: Mendorong Daya Saing dan Peningkatan Kapasitas Industri Nasional di Jakarta, Selasa (10/2/2026)
.
Purbaya menyebut, pemerintah melihat industri galangan kapal sebagai sektor manufaktur yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk dalam mendorong target pertumbuhan ekonomi hingga 8%. sayangnya masih ada persoalan utama berupa lemahnya pemanfaatan industri dalam negeri, akibat praktik-praktik dan kebijakan yang kurang berpihak.
Dalam kesempatan tersebut ia menyoroti kebijakan impor kapal bekas yang kerap disalahgunakan. Kapal-kapal yang sebenarnya sudah mendekati usia scrap dibeli murah dari luar negeri, lalu dioperasikan di Indonesia. Praktik ini, menurut Purbaya, membuka ruang manipulasi dan rente, sekaligus mematikan peluang galangan kapal nasional.
“Orang Indonesia suka ngakal-ngakalin. Beli kapal luar negeri murah, karena sebenarnya sudah mau di-junk, tapi masih bisa dipakai di sini. Orang-orang dapat persen. Yang rugi industri kita sendiri,” katanya.
Purbaya juga menyinggung praktik pengadaan kapal oleh kementerian dan lembaga di masa lalu yang dinilai tidak memberikan ruang adil bagi industri dalam negeri untuk bisa ikut menyicipi perputaran dana, termasuk melalui penyusunan spesifikasi yang menyulitkan galangan lokal untuk ikut bersaing. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan sumber daya manusia yang kompeten di sektor perkapalan.
“Walaupun kita negara maritim, kapalnya dari luar. Orang kita yang ahli tidak diberi kesempatan karena sebagian dari kita rakus. Ini yang disebut Presiden Prabowo sebagai serakah,” tegasnya.
Baca Juga
Danantara Berpeluang Suntik Investasi ke Galangan Kapal Nasional
Ia memberi contoh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang memiliki rencana pengadaan hingga 1.500 unit kapal. Namun ia tidak mendapati satupun anggota dari INSA yang berada di ruang diskusi yang mengaku telah mendapatkan order dari kementerian. “Ini kan aneh, tidak masuk akal. Untuk pertumbuhan ekonomi, tapi uangnya tidak masuk ke dalam negeri,” katanya.
Mengutip data yang disampaikan Indonesia ShipOwner Association (INSA), Purbaya menyebut terdapat sekitar 2.491 kapal domestik yang usianya sudah lebih dari 25 tahun dan pasti akan digantikan. Namun, kapasitas galangan kapal nasional baru mampu menggarap sebagian kecil dari kebutuhan tersebut. Kondisi ini diperparah oleh mahalnya bahan baku, beban pajak, dan minimnya kepastian permintaan.
“Kalau harganya mahal karena bahan baku mahal dan dipajaki, kan bisa datang ke saya. Kalau perlu saya beri subsidi,” tegas Purbaya.
Ke depan, purbaya berkomitmen mengamankan permintaan domestik agar industri galangan kapal nasional dapat tumbuh dan berputar. Menurut Purbaya, pengeluaran anggaran di awal tahun sangat penting untuk menggerakkan sektor riil, meningkatkan penerimaan pajak, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
“Saya perlu uang keluar cepat supaya ekonomi tumbuh. Tapi anda bangun di dalam negeri, supaya bayar pajak, supaya ekonomi jalan,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Kementerian Keuangan siap memberikan dukungan fiskal untuk memperkuat industri galangan kapal. Purbaya menegaskan, pemerintah terbuka untuk mendiskusikan berbagai kekurangan yang dihadapi industri, mulai dari biaya, kualitas, hingga skema dukungan yang dibutuhkan.
Baca Juga
Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Menuju 6% Tahun Ini, Sebut Moody’s 'Offside'
“Nanti kita diskusikan kekurangannya apa. Kita betulin. Terus dukungan kualitas seperti apa. Saya bisa kasih dukungan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Ia juga memahami bahwa untuk beberapa subsektor, seperti permesinan, industri dalam negeri masih harus mengandalkan impor karena belum tersedia manufaktur domestik. “Pertama pasti impor. Tapi kalau industrinya tumbuh, lama-lama pasti ada industri mesinnya,” kata Purbaya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga permintaan domestik agar dikuasai oleh pelaku usaha dalam negeri. Dengan pasar yang terjamin, industri galangan kapal diyakini mampu berkembang, meningkatkan kapasitas, dan membangun rantai pasok nasional secara bertahap. “Jadi kita jaga demand domestik untuk industri dalam negeri dulu,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Anindya Bakrie menyampaikan apresiasi atas sikap berpihak pemerintah pada industri nasional, khususnya pada industri galangan kapal. Ia pun berharap Kadin bisa diajak berpartisipasi dalam satuan tugas debottlenecking yang dibentuk Kementerian Keuangan, untuk bisa memberikan masukan-masukan terkait persoalan yang dihadapi oleh industri domestik.

