Harga Minyak 'Rebound' Seusai 'Drone' Iran Ditembak Jatuh AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia sedikit naik pada Selasa (3/2/2026) setelah insiden militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan kekhawatiran pasar atas potensi terganggunya upaya meredakan ketegangan kedua negara, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi global.
Kenaikan harga terjadi setelah militer Amerika Serikat menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab serta laporan adanya kapal perang Iran yang bergerak mendekati kapal tanker berbendera AS di sekitar Selat Hormuz. Situasi tersebut memicu kembali premi risiko geopolitik di pasar minyak yang sehari sebelumnya sempat mereda.
Harga minyak mentah Brent naik US$ 1,03 atau 1,55% dan ditutup di level US$ 67,33 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,07 atau 1,72% dan ditutup di US$ 63,21 per barel. Sehari sebelumnya, kedua patokan minyak itu ditutup pada level terendah sejak 26/1/2025 setelah anjlok lebih dari 4%.
Baca Juga
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Selasa bahwa militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang “secara agresif” mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden tersebut menambah ketegangan di kawasan yang sejak lama menjadi pusat perhatian pasar energi global.
Di Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, sumber maritim dan konsultan keamanan menyebut sekelompok kapal perang Iran mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman. Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini, terutama ke pasar Asia, sehingga setiap eskalasi langsung berdampak pada sentimen harga.
Harga minyak sebelumnya tertekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran “serius berbicara” dengan Washington, pernyataan yang sempat memunculkan harapan meredanya konflik. Iran tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 2025, berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS (EIA).
“Signifikansi Iran di pasar minyak jauh melampaui profil produksinya sendiri. Bobot geopolitik negara ini berakar pada lokasi strategisnya, pengaruhnya terhadap dinamika keamanan regional, dan kemampuannya untuk mengganggu infrastruktur energi dan jalur transit yang penting,” kata Wakil Presiden Senior dan Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon dilansir CNBC.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Uni Emirat Arab pada Selasa mendesak Iran dan AS memanfaatkan dimulainya kembali pembicaraan nuklir pekan ini guna menyelesaikan kebuntuan yang telah memicu ancaman serangan udara timbal balik. Seruan tersebut mencerminkan kekhawatiran negara-negara kawasan atas dampak konflik berkepanjangan terhadap stabilitas energi.
Sebelumnya pada hari yang sama, harga minyak juga mendapat dukungan dari sentimen positif terkait kesepakatan perdagangan antara AS dan India yang meningkatkan harapan pemulihan permintaan energi global. Di saat bersamaan, serangan berkelanjutan Rusia terhadap Ukraina memicu kekhawatiran bahwa sanksi terhadap minyak Rusia akan bertahan lebih lama.
Baca Juga
Trump Sebut ‘Armada Besar’ Menuju Iran, Harga Minyak Melonjak
Donald Trump mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan India pada Senin (2/2/2026) untuk memangkas tarif impor menjadi 18% dari sebelumnya 50% sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh New Delhi serta penurunan hambatan perdagangan. India merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia sekaligus importir minyak utama, sehingga kebijakan ini dinilai relevan bagi pasar energi.
Meski demikian, perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates menilai dampak jangka pendek kesepakatan tersebut terbatas. “Dampak jangka pendek kemungkinan akan berupa diskon lebih lanjut pada harga minyak mentah Rusia yang tidak mungkin memengaruhi keluarnya kargo bayangan ke pasar dunia,” tulis perusahaan tersebut.
Di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskiy pada Selasa menuduh Rusia memanfaatkan gencatan senjata energi yang didukung AS untuk menimbun amunisi dan melancarkan serangan baru sehari sebelum perundingan perdamaian. Serangan semalam dilaporkan melumpuhkan sistem pemanas di sejumlah kota, termasuk ibu kota Kyiv.
Para negosiator Ukraina dijadwalkan menuju Abu Dhabi untuk putaran kedua pembicaraan trilateral yang dimediasi AS pada Rabu dan Kamis. Pasar mencermati perkembangan ini karena penundaan dalam mengakhiri perang Ukraina berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi.
Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada 2025, menurut data EIA. Selama sanksi pascainvasi Moskow pada 2022 masih berlaku, pasokan minyak global diperkirakan tetap ketat, menjaga sensitivitas harga terhadap setiap eskalasi geopolitik.

