Harga Emas dan Perak Anjlok Dipicu Margin CME dan Kebijakan The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dan perak global melemah tajam pada Senin (3/2/2026), memperpanjang tekanan setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi pada akhir pekan lalu, seiring pengetatan margin perdagangan dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Harga perak spot terakhir tercatat turun lebih dari 6% menjadi US$ 78,86 per ons, sementara harga emas spot merosot lebih dari 4% ke sekitar US$ 4.662,43 per ons. Tekanan tersebut menandai kelanjutan koreksi tajam setelah reli panjang logam mulia sepanjang tahun lalu.
Di pasar derivatif, kontrak berjangka perak justru naik 2% ke level US$ 80,11 per ons. Adapun kontrak berjangka emas terakhir diperdagangkan 1% lebih rendah di US$ 4.694,60 per ons. Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), harga emas sempat anjlok hingga 28%, menjadi penurunan harian terdalam sejak Maret 1980.
Tekanan tambahan datang dari CME Group, operator bursa derivatif terbesar di dunia, yang menaikkan persyaratan margin setelah gejolak pasar pekan lalu. Kebijakan tersebut mulai berlaku Senin setelah penutupan pasar. Margin kontrak berjangka emas COMEX dinaikkan menjadi 8% dari sebelumnya 6%, sementara margin kontrak berjangka perak COMEX ukuran 5.000 ons meningkat menjadi 15% dari 11%.
Pembalikan tajam harga logam mulia pada Jumat terjadi ketika optimisme pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga AS berbenturan dengan penilaian ulang arah kepemimpinan Federal Reserve (The Fed). Situasi ini dipicu langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menominasikan mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh untuk menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell setelah masa jabatannya berakhir pada Mei.
“Tren ‘Beli Produk Amerika’ kembali muncul sebagai akibatnya, dan dorongan kemerdekaan yang mendorong harga emas dan perak ke level tertinggi yang sangat tinggi tepat di bawah US$ 5.600 dan US$ 122 per ons pada Kamis (29/1/2026) pagi mulai melemah,” kata ekonom senior di Interactive Brokers José Torres dalam catatan riset pada Senin dilansir CNBC
Baca Juga
Minat Pembiayaan Emas Naik, BSN Pacu Pertumbuhan Konsumer di 2026
Kepala wilayah Asia dan Timur Tengah CMC Markets Christopher Forbes menilai koreksi tajam harga emas lebih mencerminkan pola klasik setelah reli luar biasa, bukan sinyal runtuhnya prospek jangka panjang.
Penurunan harga emas adalah “gelembung udara klasik setelah kenaikan luar biasa,” kata Forbes.
“Aksi ambil untung, penguatan dolar, dan berita geopolitik terbaru dari Washington telah menghilangkan gelembung dari perdagangan yang ramai.”
Penguatan dolar AS turut menekan harga logam mulia. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama, tercatat telah menguat sekitar 0,8% sejak Kamis.
Dolar yang lebih kuat membuat harga emas dalam denominasi dolar AS menjadi kurang menarik bagi pembeli asing. Pada saat yang sama, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas, karena obligasi pemerintah menjadi lebih menarik sebagai aset lindung nilai.
Warsh dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter yang lebih ketat, dan pengumumannya sebagai calon ketua The Fed telah memperkuat nilai dolar. Di saat bersamaan, pernyataan Trump yang mengindikasikan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran turut meredakan kekhawatiran geopolitik global. Kondisi ini tercermin dari harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka yang turun sekitar 4% pada perdagangan Senin.
Dalam jangka pendek, Forbes memperkirakan harga emas akan tetap berada di level tinggi namun bergerak fluktuatif, seiring pelaku pasar menunggu kejelasan lebih lanjut terkait arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 167.000 Balik ke Rp 3 Jutaan Lagi, 'Buyback' Turun
Secara kinerja tahunan, harga perak masih mencatatkan kenaikan sekitar 16% sejak awal tahun, sementara harga emas naik sekitar 8% dalam periode yang sama. Pada tahun lalu, kedua logam mulia tersebut membukukan reli luar biasa, dengan emas melonjak sekitar 65% dan perak melejit hingga 145%.
“Melemahnya dolar AS kembali atau konfirmasi kebijakan moneter yang lunak dari Warsh akan membawa kembali para pembeli saat harga turun,” kata Forbes, yang menegaskan masih mempertahankan pandangan bullish terhadap emas batangan untuk horizon 12 bulan ke depan.
Ia menambahkan, emas berpeluang kembali menyentuh level tertinggi baru-baru ini jika Federal Reserve melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter di tengah pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap tidak stabil.

