Fadli Zon Ingin RI Contoh Korsel dan India, Jadikan Budaya Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh lagi dipandang semata sebagai beban anggaran negara, melainkan harus ditempatkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Menurut Fadli, banyak negara maju telah menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan ekonomi melalui pengembangan cultural and creative industry (CCI). Ia mencontohkan Amerika Serikat (AS) dengan Hollywood, Korea Selatan (Korsel) melalui Korean Wave, serta India dengan Bollywood.
“Sumber daya alam, seperti batu bara, nikel, dan migas suatu saat akan habis, tetapi budaya tidak akan pernah habis, karena itulah negara-negara maju kini menyandarkan ekonominya pada industri budaya dan kreatif,” ujar Fadli saat menyampaikan pidato pada ajang Starting Year Forum 2026 di The St. Regis Hotel, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga
Prabowo Kagum dengan Budaya Kerja Korea: Saya Tidak Lihat Orang Kedinginan dan Sarungan
Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki modal budaya sangat besar. Bahkan ia menyebutnya sebagai mega diversity, istilah yang menurutnya lebih tepat menggambarkan kekayaan dan keragaman budaya nasional. Ia memperkirakan Indonesia memiliki 1.340 kelompok etnik dan 718 bahasa daerah, atau sekitar 10% dari seluruh bahasa di dunia.
Fadli menjelaskan bahwa kebudayaan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan, mulai dari bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, hingga seni dan budaya digital. Seluruh potensi tersebut, kata dia, harus dilindungi, dikembangkan, dan yang terpenting dimanfaatkan secara ekonomi.
Dalam paparannya, Fadli membeberkan sejumlah capaian Kementerian Kebudayaan, antara lain peningkatan jumlah cagar budaya nasional dari rata-rata 10 menjadi 85 situs per tahun. Saat ini, total cagar budaya nasional telah mencapai 313 situs. Sementara itu, warisan budaya tak benda Indonesia tercatat sebanyak 2.727, meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Ketua LPS Ajak Jaga Budaya sebagai Aset Bangsa dengan Pendekatan Keuangan, Bagaimana Caranya?
Pengembangan museum juga menjadi bagian penting ekonomi budaya. Ia mencontohkan lonjakan pengunjung Museum Nasional hingga 400% setelah revitalisasi dan pengembalian ribuan artefak dari Belanda, termasuk fosil legendaris Java Man. "Setiap hari Museum Nasional dikunjungi 5.000–7.000 orang, bahkan bisa mencapai 13.000 orang saat hari libur. Ini bukti bahwa budaya punya nilai ekonomi nyata,” katanya.
Ke depan, Fadli mendorong keterlibatan sektor swasta melalui kolaborasi, filantropi, serta skema insentif pajak bagi pelaku usaha yang berkontribusi pada pengembangan kebudayaan. Ia menegaskan, langkah ini sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

