APBN 2026 Tetap Ekspansif dan Terukur, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,4%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah menyiapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebagai motor penggerak pembangunan nasional dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Noor Faisal mengatakan, APBN 2026 diarahkan untuk mendukung visi Indonesia yang tangguh, mandiri, dan sejahtera sesuai dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Dia menegaskan APBN akan terus didorong sebagai katalis utama dalam mempercepat investasi dan perdagangan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga
Anindya Bakrie: Ketidakpastian Global Meningkat, Dunia Usaha Perlu Tetap Tenang dan Waspada
“APBN 2026 tetap diarahkan sebagai motor penggerak pembangunan, dengan fokus pada penguatan ketahanan ekonomi nasional,” ujar Noor Faisal dalam acara Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Dia menjelaskan, postur APBN 2026 disusun tetap ekspansif tetapi terukur. Pemerintah menetapkan defisit fiskal di bawah batas aman 3% dari produk domestik bruto (PDB), yakni sebesar 2,68%. Sementara itu, belanja negara ditargetkan mencapai Rp 3.842,7 triliun dengan alokasi transfer ke daerah sebesar Rp 693 triliun. “Pembiayaan difokuskan secara prudent, inovatif, dan berkelanjutan. Harapannya, APBN tetap adaptif dalam meredam berbagai guncangan ekonomi,” terang Noor Faisal.
Dari sisi makroekonomi, pemerintah optimistis kinerja ekonomi nasional pada 2026 akan menunjukkan tren lebih baik. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5,4%, lebih tinggi dibandingkan target 2025 sebesar 5,2%. Inflasi diperkirakan tetap terjaga di level 2,5%, sesuai sasaran inflasi APBN, yakni 2,5% plus minus 1%. Sementara itu, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diproyeksikan berada di kisaran 6,9%, lebih rendah dibandingkan asumsi APBN 2025 sebesar 7%.
“Ini menunjukkan biaya pendanaan yang lebih kompetitif dan daya tarik instrumen SBN yang tetap terjaga,” kata Noor Faisal.
Baca Juga
Ketum Kadin Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Perlu Dijaga, Dunia Usaha Harus Tetap Produktif
Nilai tukar rupiah pada 2026 diproyeksikan stabil di kisaran Rp 16.500 per dolar AS, sedikit lebih lemah dibandingkan asumsi APBN 2025 sebesar Rp 16.000 per dolar AS. Pemerintah menilai proyeksi tersebut didukung oleh kebijakan yang adaptif serta kondisi eksternal yang diharapkan lebih terkendali.
Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) diperkirakan di kisaran US$ 70 per barel, lebih rendah dibandingkan asumsi APBN 2025 sebesar US$ 82 per barel. Penurunan asumsi ICP ini diharapkan memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi belanja pemerintah.

