Emas “Ambil Napas”, Investor Realisasikan Keuntungan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun lebih 1% pada Rabu (8/1/2026) setelah investor mengambil keuntungan menyusul reli kuat dalam beberapa hari terakhir, meski pelemahan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan menahan penurunan lebih dalam.
Harga emas spot turun 0,9% menjadi US$ 4.445,32 per ons dan sempat melemah hingga 1,7% ke US$ 4.422,89 pada awal sesi perdagangan. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup 0,7% lebih rendah di US$ 4.462,50.
“Kami melihat penurunan harga hari ini sebagai aksi ambil untung wajar setelah lonjakan baru-baru ini,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger dilansir CNBC.
Ia menambahkan bahwa data ketenagakerjaan yang lebih lemah tetap mendukung argumen pelonggaran kebijakan The Fed yang selama ini menopang harga emas.
Data resmi menunjukkan lowongan pekerjaan di Amerika Serikat turun lebih dalam dari perkiraan pada November setelah sempat meningkat tipis pada Oktober. Laporan terpisah Automatic Data Processing (ADP), lembaga pemroses data penggajian swasta, juga memperlihatkan penambahan tenaga kerja sektor swasta pada Desember lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Baca Juga
Kondisi tersebut mendorong pasar memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 61 basis poin sepanjang tahun ini, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh LSEG. Perhatian investor kini tertuju pada rilis nonfarm payrolls pada Jumat (9/1/2026) sebagai penentu arah kebijakan moneter berikutnya.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik terus berlanjut setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (6/1/2026) mengumumkan rencana untuk memurnikan dan menjual minyak mentah Venezuela, sementara Gedung Putih secara terpisah mengonfirmasi diskusi mengenai akuisisi Greenland, termasuk potensi keterlibatan militer.
Dari Asia, bank sentral China memperpanjang tren pembelian emasnya hingga bulan ke-14 berturut-turut pada Desember, menurut data resmi. “Data dari China terus menunjukkan permintaan yang kuat yang kita lihat dari Asia, dan sekali lagi, ini menjadi salah satu alasan dorongan positif harga baru-baru ini,” kata Meger.
Emas, yang dikenal sebagai aset safe-haven atau aset lindung nilai di tengah ketidakpastian, cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil tetap. Faktor inilah yang membuat pelemahan harga kali ini dinilai lebih sebagai koreksi teknikal ketimbang perubahan tren.
Baca Juga
'Safe Haven' Diburu karena Gejolak Global, Emas Antam (ANTM) Melonjak Rp 35.000
Sementara itu, tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 4,1% menjadi US$ 77,93 per ons. HSBC menaikkan perkiraan harga perak pada 2026 menjadi US$ 68,25, tetapi memperingatkan potensi volatilitas akibat pasokan yang menyusut. Goldman Sachs menilai persediaan tipis di London dapat memicu fluktuasi tajam dan reli yang didorong tekanan jangka pendek, meski berisiko berbalik arah.
Harga platinum turun 6,5% menjadi US$ 2.285,75 per ons, sementara paladium diperdagangkan 5,2% lebih rendah di US$ 1.727,40. Penurunan serentak ini mencerminkan sentimen pasar yang lebih berhati-hati menjelang data ekonomi utama dan perkembangan geopolitik global.

