Lampaui Target, Pertamina EP Papua Field Tembus Produksi 1.014 BOPD
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Field Papua yang dikelola Pertamina EP Zona 14 Regional 4, entitas Pertamina Hulu Energi (PHE) subholding upstream Pertamina (Persero) memasuki awal tahun dengan capaian produksi melampaui target, menegaskan daya tahan lapangan migas tua di tengah tantangan penurunan alami produksi. Sumur SLW-C4X mencatatkan initial production (IP) sebesar 1.014 BOPD.
Keberhasilan pengeboran satu sumur pengembangan di Lapangan Salawati menjadi penopang utama kinerja tersebut sekaligus memperkuat peran Papua dalam menjaga pasokan energi nasional.
Field Manager Papua Field Ardi mengatakan, menjelang satu abad beroperasi sejak pertama kali berproduksi pada 1932, wilayah kerja Papua merupakan lapangan migas matang yang secara alami berada pada fase penurunan produksi.
"Namun, kolaborasi tim Field Papua, zona 14, dan regional 4 mampu menjaga kinerja melalui strategi pengeboran dan optimalisasi produksi yang agresif dan terukur," kata dia dalam keterangannya, Jumat (2/1/2026).
Memasuki Januari 2025, Field Papua mencatatkan produksi minyak month to date (MTD) sebesar 848 barel minyak per hari (barrels of oil per day/BOPD), lebih tinggi dari target yang ditetapkan. Produksi tersebut berasal dari 130 sumur yang tersebar di tiga lapangan utama, yakni Klamono, Sele-Linda, dan Salawati.
Kondisi lapangan yang telah beroperasi hampir 100 tahun membawa kompleksitas tersendiri. Lokasi yang berada di wilayah terpencil dengan akses terbatas serta tantangan bawah permukaan tidak menyurutkan langkah para perwira Pertamina untuk menjaga keberlanjutan produksi migas di wilayah paling timur Indonesia.
Baca Juga
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim Wilayah Kerja (WK) Papua menjalankan strategi ofensif melalui program pengeboran empat sumur pengembangan di Lapangan Salawati. Selain itu, dilakukan percepatan monetisasi potensi gas di Klamono Utara W dan Markisa, pengembangan potensi minyak di struktur Kembo, evaluasi potensi minyak melalui studi low quality reservoir (LQR) di Lapangan Sele-Linda, serta penjajakan percepatan komersialisasi potensi gas di struktur Mogoi Deep.
Rangkaian program tersebut ditujukan untuk mempertahankan denyut produksi migas di Papua. Meski sempat menghadapi kendala teknis yang menyebabkan pergeseran jadwal dari rencana awal pertengahan tahun, pengeboran sumur pengembangan SLW-C4X akhirnya dapat dimulai pada Sabtu (2/11/2025) menggunakan Rig PDSI #11.2/N80B-M.
Proses pengeboran hingga komplesi diselesaikan dalam waktu 42 hari. Sumur SLW-C4X mencapai kedalaman akhir 2.150 meter measured depth (mMD) atau 2.091 meter true vertical depth (mTVD) dengan target formasi kais. Hasil penilaian formasi menunjukkan kualitas reservoir yang lebih baik dibandingkan prognosis awal.
Dengan dukungan teknologi artificial lift Electric Submersible Pump (ESP) tipe MG3200, kinerja sumur menunjukkan hasil di atas ekspektasi. Sejak uji sumur dimulai pada Senin (12/12/2025), produksi langsung mencapai 581,26 BOPD, melampaui target awal sebesar 510 BOPD. Pemantauan lanjutan menunjukkan tren peningkatan signifikan hingga pada Kamis (18/12/2025) produksi rata-rata mencapai 859 BOPD.
Kinerja tersebut terus berlanjut hingga sumur SLW-C4X mencatatkan initial production (IP) sebesar 1.014 BOPD. Pembaruan kinerja terakhir bahkan menunjukkan produksi stabil sumur SLW-C004 (SSP) di level 1.109,80 BOPD, jauh melampaui target yang telah ditetapkan.
Baca Juga
Genjot Produksi Minyak, SKK Migas dan Petrogas Mulai Proyek CEOR Walio di Papua
Dia menegaskan keberhasilan ini menjadi bukti bahwa lapangan tua tidak identik dengan akhir masa produksi. “Keberhasilan pencapaian produksi sumur SLW-C4X adalah bukti nyata bahwa semangat inovasi dan loyalitas tinggi tim mampu menghadapi seluruh tantangan. Usia produksi hampir 100 tahun bukan akhir untuk menyerah, tetapi justru awal optimisme baru bahwa potensi brownfield di Papua masih sangat menjanjikan untuk terus digali,” tutup Ardi.
Regional Indonesia Timur subholding upstream Pertamina mengelola kegiatan hulu migas yang tersebar di Jawa Timur, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua, baik aset lepas pantai maupun darat. Selain itu, terdapat satu aset hilir berupa Donggi Senoro LNG. Wilayah kerja di bawah Regional Indonesia Timur meliputi zona 11, zona 12, zona 13, dan zona 14, yang mencakup berbagai lapangan strategis nasional.

