Produksi Stagnan, Geo Dipa Tetap Kejar Kenaikan Pendapatan 2026 Jadi Rp 1,08 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Geo Dipa Energi (Persero) menargetkan pendapatan mencapai Rp 1,080 triliun pada 2026, naik tipis dibandingkan proyeksi akhir 2025 sebesar Rp 1,074 triliun. Kenaikan tersebut diharapkan tetap tercapai meski produksi panas bumi diperkirakan stagnan.
Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & Umum Geo Dipa Energi Hanif Osman dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja 2025 dan Outlook 2026 yang digelar di kantor PT Geo Dipa Energi (Persero), Jumat (19/12/2025). Hanif menyampaikan perusahaan juga membidik pertumbuhan laba, meski tidak signifikan dibandingkan proyeksi akhir 2025 sebesar Rp 210 miliar.
“Target laba kita harap tetap tinggi, (bisa single digit?) ya. Dengan produksi yang masih stagnan di 2026, bagaimana kita berharap bisa mendapatkan revenue tumbuh juga ya sekitar 1,080 triliun,” kata Hanif saat menjawab pertanyaan Investortrust.id.
Ia menjelaskan, pada akhir 2025 Geo Dipa memproyeksikan pendapatan sebesar Rp 1,074 triliun yang ditopang kinerja dua unit pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), yakni PLTP Dieng dan PLTP Patuha. Kedua pembangkit tersebut masing-masing memiliki kapasitas terpasang 55 megawatt (MW), dengan proyeksi total produksi mencapai 759 gigawatt hours (GWh).
Memasuki 2026, kata Hanif, perusahaan akan menjaga tingkat produksi tetap setara dengan tahun sebelumnya. Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan efisiensi, khususnya pada bisnis non-inti, guna menjaga margin dan arus kas tetap sehat. “2026 kita berupaya untuk bisa mempertahankan produksi sebagaimana di 2025, kita akan melakukan efisiensi di bisnis non inti,” ujar Hanif.
Baca Juga
Gunung Lawu Dikecualikan dari Proyek Panas Bumi, Ini Penjelasan ESDM
Dari sisi pengembangan kapasitas, Geo Dipa pada 2025 telah memulai tahap engineering, procurement, and construction (EPC) untuk PLTP Patuha Unit 2 dan PLTP Dieng Unit 2. Kedua proyek tersebut masing-masing berkapasitas 55 MW dan direncanakan mulai beroperasi secara komersial pada 2027.
Dari sisi kontribusi terhadap negara, Geo Dipa hingga akhir 2025 memproyeksikan setoran bagian pemerintah mencapai Rp 123 miliar. Nilai tersebut tercatat 101% lebih tinggi dibandingkan target perusahaan pada 2025 sebesar Rp 122 miliar. Selain itu, perusahaan juga diproyeksikan membagikan dividen sebesar Rp 27,43 miliar pada 2025, meningkat dari realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 26,9 miliar.
Kinerja keuangan tersebut sejalan dengan penguatan persepsi kredit perusahaan. Geo Dipa berhasil mempertahankan peringkat kredit kategori Nasional Jangka Panjang dengan predikat “AAA” dari Fitch Ratings selama 4 tahun berturut-turut sejak 2022. Peringkat “AAA” mencerminkan tingkat kredibilitas dan kapabilitas yang sangat kuat dalam pengelolaan dan pembayaran kewajiban jangka panjang. Fitch menilai Geo Dipa memenuhi kriteria tersebut melalui rekam jejak operasional yang baik, kemitraan yang solid, margin yang stabil, serta visibilitas pendapatan jangka panjang.
Sementara Direktur Operasi & HSSE Geo Dipa Energi Supriadinata Marza menyampaikan bahwa perusahaan mencatatkan peningkatan kinerja pada aspek environment, social, and governance (ESG). Hal ini tercermin dari perolehan Rating ESG Geo Dipa sebesar 63 berdasarkan penilaian S&P Global.
Sebelumnya, Geo Dipa juga memperoleh peringkat C untuk Climate Change dan peringkat C untuk Water Security dari The Carbon Disclosure Project (CDP). Capaian tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Dalam penguatan tata kelola, perusahaan juga memperoleh sembilan sertifikasi standar sistem manajemen yang dinilai oleh PT Sucofindo sebagai lembaga sertifikasi independen. Sertifikasi tersebut mencerminkan penerapan sistem manajemen yang terstruktur, terukur, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Baca Juga
Supriadinata menegaskan bahwa sertifikasi tersebut tidak sekadar memenuhi standar, tetapi menjadi fondasi tata kelola yang memastikan komitmen keberlanjutan dijalankan secara konsisten. “Sertifikasi ISO ini kami pandang sebagai prasyarat penting dalam membangun kinerja ESG yang kredibel—bukan hanya pada tataran komitmen, tetapi pada sistem, proses, dan dampak nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Sumber Daya Manusia PT Sucofindo David Sidjabat menyatakan bahwa kepemilikan sembilan sertifikasi sistem manajemen menunjukkan komitmen Geo Dipa terhadap tata kelola perusahaan yang baik.

