Kemenperin: Pendidikan Vokasi Industri Jadi Kunci Penguatan SDM dan Pilar SBIN
Poin Penting
|
YOGYAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan pendidikan vokasi industri merupakan salah satu kunci untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) industri. SDM yang dicetak harus memenuhi kebutuhan industri, mulai dari kompetensi dan dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Doddy Rahadi saat melakukan kunjungan ke Politeknik ATK (Akademi Teknologi Kulit) Yogyakarta, Senin (8/12/2025).
"Jadi, vokasi pendidikan di sekolah-sekolah kita, jadi tulang punggung industri. Kita latih, kita didik, supaya matching dengan industrinya, link and match-nya berjalan, bisa saling melengkapi, kurikulumnya disusun sama-sama, ini yang kita jadikan poin-poin," ucap Doddy.
Baca Juga
Kemenperin: Salah Besar Jika Anggap Kinerja Industri Otomotif Sedang Kuat
Untuk itu, Kemenperin menegaskan komitmennya dalam mempersiapkan kualitas SDM yang memenuhi kebutuhan industri yang berkualitas dan berdaya saing. Hal tersebut juga sejalan dengan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN).
SBIN yang dimaksud oleh Doddy tersebut ialah sebuah kerangka kerja komprehensif untuk memajukan sektor manufaktur Indonesia menuju industri 4.0, berfokus pada hilirisasi, ekosistem terintegrasi, teknologi, dan keberlanjutan.
"Kenapa kemanperin punya vokasi, ya bahwa industrinya ada, binaan kita, kita perlu mengisi itu, jadi kita siapkan yang spesifik. ATK cuma satu-satunya di Asia Tenggara, harus bisa kasih visinya ke depan harus seperti apa, ini harus jadi sesuatu, duduk sama-sama kita bikinkan ini jadi pusat ilmunya, tepat bertanya tentang kulit, dan harus ada jawabnya," bebernya.
Baca Juga
Kemenperin: Kapasitas Terpasang Hidrogen Capai 13.600 Ton per Tahun
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Politeknik ATK Yogyakarta, Sonny Taufan menyampaikan institusinya menargetkan menjadi penyelenggara pendidikan tinggi vokasi industri yang unggul di tingkat global pada 2030, sekaligus berperan strategis dalam mendukung pembangunan industri nasional.
"Kami fokus mencetak tenaga ahli yang siap kerja, kompeten, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menjadi motor penggerak industri hilir. Arah pembangunan pendidikan vokasi kami sejalan dengan kebijakan Kementerian Perindustrian dalam memperkuat daya saing industri nasional,” tambah Sonny.
Dalam data Kemenperin, serapan lulusan capai 80,92%. Hingga akhir November 2025, serapan lulusan Politeknik ATK mencapai 80,92%, dengan sertifikasi kompetensi yang mendukung kesiapan kerja di industri. Jumlah mahasiswa baru meningkat dari 149 pada 2024 menjadi 265 di 2025, termasuk 40 mahasiswa program kelas industri.

