Pertamina Buka Opsi Impor dari AS untuk Jaga Pasokan Pertalite
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Patra Niaga membuka peluang untuk impor bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat (AS) guna menjaga pasokan produk Pertalite (RON 90). Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi lonjakan konsumsi Pertalite jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026.
Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyebutkan, impor ini dilakukan untuk menjaga ketahanan stok Pertalite di atas batas aman, yakni minimal 21 hari. Diketahui, saat ini ketahanan stok Pertalite berada di kisaran 17 hari.
“Memang secara konsumsi BBM di Indonesia dengan kapasitas produksi kan memang tidak dalam satu garis yang seimbang, sehingga pasti itu dilakukan impor untuk pemenuhannya. Terkait dengan impornya, ini nanti akan dilakukan itu secara bertahap tentunya,” kata Roberth di Jakarta, dikutip Kamis (27/11/2025).
Dia menjelaskan bahwa hingga saat ini realisasi konsumsi Pertalite masih 1%-5% di bawah kuota yang ditetapkan pemerintah untuk sepanjang 2025, yang sebanyak 31,2 juta kiloliter (KL). Maka dari itu, perusahaan masih memiliki kesempatan untuk menambah pasokan lewat impor untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi di momen Nataru.
“Pemenuhan impor akan dilakukan oleh Pertamina sesuai dengan spek Direktorat Jenderal Migas dan juga melalui proses prosedur pengadaan yang nanti ada di Pertamina,” beber Roberth.
Baca Juga
Jelang Nataru, Produksi Minyak Pertamina Hulu Energi Capai 556.000 BOPD
Terkait dengan sumber impornya sendiri, Roberth menyebutkan bahwa Pertamina memiliki beragam mitra penyedia (supplier). Namun, dia memberi sinyal bahwa 40% kuota impor bakal berasal dari Amerika Serikat (AS).
“Pasar impor kita kan berdasarkan kebijakan dengan pemerintah sudah ada untuk menyerap yang dari AS, di luar itu juga. Kalau AS kan setara 40% seperti kebijakan pemerintah. Selebihnya itu juga dilakukan dengan supplier-supplier penyedia yang ada di lokasi lain,” jelas dia.
Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan penyerapan impor dari AS sekitar 40%. Kebijakan tersebut menjadi salah satu paket negosiasi terkait tarif resiprokal dengan AS. Sementara itu, 60% kuota impor sisanya bisa diambil dari supplier lain.

