Kadin Indonesia Matangkan Rencana Kerja 2026, Fokus Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia terus mematangkan rencana kerja 2026 melalui koordinasi lintas bidang, serta konsolidasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.
Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Kadin Indonesia Taufan Eko Nugroho mengungkapkan, masing-masing Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) telah menyelesaikan rangkaian rapat koordinasi (rakor) untuk memetakan program kerja tahun depan.
“Teman-teman WKUK sudah menyelenggarakan rakornya, dan di masing-masing WKUK tentu sudah ada beberapa perencanaan untuk tahun 2026 nanti,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam Press Conference Jelang Rapimnas 2025 Kadin Indonesia bertema ‘Kadin Bergotong Royong Memperluas Lapangan Kerja, untuk Kesejahteraan dan Kemandirian Indonesia, di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Menurut Taufan, Kadin Indonesia juga akan menyerap masukan dari sejumlah tokoh nasional dalam agenda Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2025 pada 1 Desember 2025. Agenda tersebut bakal mengundang Ketua MPR Ahmad Muzani, Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan sekaligus Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo, Menteri BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan P Roeslani, serta sejumlah Menteri Koordinator (Menko) dan menteri terkait.
“Tentu kita ingin mengecek sinergis yang akan dibangun,” katanya.
Baca Juga
Bakal Gelar Rapimnas 2025, Ini Pokok Pemikiran Kadin Indonesia
Dorong ekosistem pekerja migran dan industri kesehatan
Taufan menjelaskan, salah satu isu yang mencuat dalam pembahasan lintas bidang adalah penguatan ekosistem pekerja migran. Ia menjelaskan bahwa Indonesia perlu mengejar ketertinggalan dari negara lain dalam membangun pendekatan holistik.
“Dari WKUK Pemberdayaan Manusia ada ide tentang bagaimana membuat ekosistem tentang pekerja migran. Kalau dibandingkan dengan negara lain, kita saat ini masih belum ada holistic view-nya, dan kita juga melihat kementerian juga arahnya ke sana,” katanya.
Di sektor kesehatan, lanjut Taufan, Kadin Indonesia menilai potensi industri kesehatan sebagai motor pertumbuhan ekonomi semakin besar berkat penguatan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan.
“Teman-teman bidang kesehatan di Kadin ini sangat bersinergi dengan Kementerian Kesehatan. Salah satu hal yang kami sempat diskusi kemarin, Bapak Menteri Kesehatan melihat kalau Indonesia fokus di kesehatan saja Industrinya itu bisa menyumbangkan 1-2% (pertumbuhan ekonomi),” ucapnya.
“Kalau sekarang yang 5% (pertumbuhan ekonomi) sudah terjadi, plus industri kesehatan yang sedang dijalankan oleh Kadin dan Menteri Kesehatan, itu pertumbuhan 7% sudah tercapai. Hal seperti itu yang sempat kita diskusikan,” sambung Taufan.
Soroti mismatch talenta dan tantangan vokasi
Di sisi bersamaan, Kadin Indonesia juga menyoroti persoalan kesenjangan dan keterampilan. Menurut Taufan, banyak lulusan perguruan tinggi justru tidak terserap industri karena ketidaksesuaian kompetensi.
“Bicara tentang tenaga kerja, bagaimana kita meningkatkan vokasi, karena banyak sekali adik-adik kita yang lulus S3, S2, S1, pendidikannya tinggi tapi kok malah nganggur, pekerjaannya kenapa tidak match dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Hal yang sama juga terjadi dari sisi pengusaha, di mana sudah coba merekrut sejumlah talenta tapi tidak cocok. Talenta yang sesuai jadi rebutan, sementara banyak lulusan lain justru tanpa pekerjaan.
“Seperti ada mismatch antara pendidikan dan kebutuhan usaha. Hal seperti itu yang kita bahas,” kata Taufan.
Selain itu, Kadin Indonesia turut menyiapkan langkah menghadapi deindustrialisasi serta mendorong peningkatan inovasi dan produktivitas nasional.
“Ini bisa kita coba frame kalau bisa kembalikan momentumnya jadi semakin positif ke depannya. Hal seperti itu mungkin yang sedang kita coba cari titik temunya nanti antara teman-teman pengusaha dan juga pemerintah,” ucap Taufan.

