Produksi Emas Terganggu Insiden GBC, PTFI Tetap Proyeksikan Kenaikan Pendapatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas mengungkapkan, target produksi emas tahun 2025 dipastikan mengalami penurunan signifikan akibat insiden luncuran material basah di Tambang Grasberg Block Caving (GBC) pada 8 September 2025.
Tony menyebut, insiden tersebut memaksa perusahaan menghentikan seluruh aktivitas produksi tambang bawah tanah selama hampir 50 hari. Pasalnya, perusahaan fokus pada evakuasi tujuh pekerja yang terjebak di tambang bawah tanah tersebut.
“Dalam RKAB, rencana produksi emas 2025 ditetapkan sebesar 67 ton. Namun akibat insiden GBC, seluruh operasi tambang bawah tanah harus kami hentikan untuk fokus mencari tujuh karyawan kontraktor yang terperangkap,” ujar Tony dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (24/11/2025).
Setelah upaya pencarian berlangsung hingga seluruh korban ditemukan, PTFI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan investigasi komprehensif. Pada 28 Oktober 2025, pemerintah memberikan persetujuan untuk mengoperasikan kembali area tambang bawah tanah yang tidak terdampak langsung oleh luncuran material.
Tony menjelaskan, di dalam kompleks tambang bawah tanah PTFI terdapat tiga area utama, yaitu Grasberg Block Caving (GBC), Deep Mill Level Zone (DMLZ), dan Big Gosan. GBC merupakan yang terbesar dengan kapasitas produksi bijih emas sekitar 150.000 ton per hari. Adapun DMLZ mampu menghasilkan sekitar 60.000 ton bijih per hari, sementara Big Gosan hampir 10.000 ton.
Baca Juga
Lampaui Target, Freeport Setor Kontribusi US$ 4,1 Miliar ke Negara
“Jadi saat ini kami sudah memulai produksi sebesar kira-kira 70.000 ton bijih per hari atau sekitar 30% dari kapasitas produksi kami yang sekitar 210.000 ton,” ujar Tony.
Walaupun produksi menurun hampir separuh, di mana PTFI memproyeksikan penjualan emas di tahun 2025 ini hanya 33 ton, Tony menyebut pendapatan dari penjualan emas justru mengalami peningkatan. Hal ini didorong kenaikan signifikan harga emas dunia.
Dalam RKAB 2025, harga emas diproyeksikan berada di level US$ 1.900 per ounce. Namun saat ini harga emas telah melesat hingga US$ 4.300 per ounce. Ketika Freeport melakukan pemutakhiran di kuartal II, harga masih diperkirakan sekitar US$ 3.000 per ounce, sementara realisasi hingga saat ini mencapai US$ 3.400 per ounce.
“Kenaikan harga ini mendorong peningkatan pendapatan hingga sekitar 80%, meskipun produksi emas kami berkurang hampir separuh,” jelas Tony.
Tony menegaskan bahwa pemulihan operasi di tambang bawah tanah terus dilakukan secara bertahap. PTFI menargetkan pemulihan penuh pada tahun 2026 seiring penataan kembali infrastruktur dan peningkatan keamanan operasional.
Meski menghadapi tantangan berat di sisi produksi, lonjakan harga emas global memberikan ruang bagi PTFI untuk tetap menjaga kinerja pendapatan perusahaan hingga akhir tahun.

