PTFI Proyeksikan Penjualan Tembaga di 2025 Tak Capai Target
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kinerja penjualan tembaga mereka di tahun 2025 ini tidak akan mencapai target yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yaitu sebesar 770.000 ton.
Direktur Utama PTFI Tony Wenas menyampaikan, tidak tercapainya target ini disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di smelter PTFI pada Oktober 2024 lalu yang menyebabkan salah satu unit, yakni yang meng-capture sulfur dioksida (SO2) untuk diproduksi menjadi asam sulfat (H2SO4).
“Kebakarannya memang tidak terlalu besar, tapi itu adalah salah satu hal yang pokok karena kalau kita tetap produksi maka akan teremisi SO2 akan sangat mencemari, sehingga smelter tersebut harus berhenti beroperasi seluruhnya dan baru selesai kembali di bulan Mei tahun 2025,” ungkap Tony Wenas dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (24/11/2025).
Baca Juga
Bahlil Targetkan Tambang GBC Freeport Kembali Beroperasi Maret-April 2026
Tony menyebut, kondisi tersebut juga menyebabkan slowdown di operasi upstream karena jumlah konsentrat yang ada di pelabuhan di tempat gudang PTFI sudah penuh di tiga tempat.
“Dan juga kalau kita lihat di proyeksi di RKAB tahun 2025, itu volume penjualan tembaga tertulis sekitar 770.000 ton, namun hanya bisa kita capai sekitar 537.000 ton sampai dengan akhir tahun 2025 ini. Sampai dengan saat ini sudah sekitar 470.000 ton yang kita produksi,” beber dia.
Meski penjualan tembaga di tahun 2025 ini diperkirakan tak mencapai target, namun Tony menerangkan bahwa realisasi harga bakal lebih tinggi dari target yang tercantum dalam RKAB 2025.
“Di RKAB proyeksi harga tembaga adalah US$ 3,75 per pound (lb), sementara realisasi sampai dengan saat ini harga tembaga yang ada sudah naik tinggi yaitu US$ 4,46 per pound. Sehingga proyeksi pencapaian penjualan tembaga itu walaupun produksinya turun, tapi pendapatannya naik jadi 119% daripada rencana,” terang Tony.

