PLN Siap Dukung Kebutuhan Listrik Inalum untuk Smelter Mempawah dan Kuala Tanjung
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT PLN (Persero) memastikan kesiapan penuh untuk memenuhi kebutuhan listrik PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam dua proyek strategis nasional, yaitu ekspansi smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, serta pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyampaikan bahwa PLN siap memberikan dukungan teknis dan pasokan listrik yang andal untuk seluruh rencana ekspansi Inalum. Dia tidak memungkiri kedua proyek Inalum tersebut merupakan bagian penting dari agenda hilirisasi mineral nasional.
“Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan Inalum. PLN siap mendukung penuh ekspansi smelter Kuala Tanjung dan proyek SGAR di Mempawah,” ujar Adi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Inalum membutuhkan total 915 megawatt (MW) listrik untuk pengembangan Potline 1 hingga Potline 4 yang ditargetkan rampung pada 2031. Saat ini, PLTA milik Inalum baru menyumbang 520 MW, sehingga masih diperlukan tambahan daya 406 MW yang diminta untuk disuplai oleh PLN agar Smelter Kuala Tanjung bisa beroperasi secara maksimal.
Adi mengatakan, meskipun menantang, sistem kelistrikan Sumatera Utara memiliki cadangan daya yang memadai. Dengan daya mampu sebesar 2.736 MW dan beban puncak 2.297 MW, terdapat cadangan sekitar 439 MW.
Baca Juga
Kebutuhan Listrik Inalum untuk Smelter Baru dan Ekspansi Kuala Tanjung Capai 1,6 GW
Penguatan sistem juga terus dilakukan melalui pembangunan backbone transmisi 500 kV Sumatera Selatan-Sumatera Utara, yang ditargetkan tersambung penuh pada 2027–2028.
“Ketika kebutuhan Inalum mencapai puncaknya di tahun 2031, kami pastikan sistem kami sudah sangat kuat. PLN siap menyalurkan tambahan 406 MW dengan memprioritaskan energi baru terbarukan,” tegas Adi.
Sementara itu, untuk proyek SGAR Mempawah, kebutuhan dayanya jauh lebih besar, yakni 931 MW. Inalum bahkan meminta agar disediakan kapasitas terpasang 1,2 gigawatt (GW) supaya tersedia unit cadangan demi memastikan ketersediaan listrik 100% selama 365 hari per tahun.
Di sisi lain, sistem kelistrikan Kalimantan Barat saat ini baru memiliki kapasitas 631 MW. Karena itu, PLN menegaskan perlunya pembangunan pembangkit baru dan penguatan jaringan transmisi agar bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kebutuhan daya 931 MW ini belum masuk ke dalam RUPTL. Dengan adanya pertemuan ini, kami segera mempercepat revisi RUPTL agar permintaan daya dari Inalum dapat segera dimasukkan,” jelas Adi.
Selain itu, PLN mencatat bahwa gardu induk terdekat di Mempawah, yaitu GI Singkawang 150 kV, belum dapat menopang kebutuhan penuh smelter, sehingga perlu ada pengembangan bertahap. Pasokan listrik dari Malaysia (Sarawak) sebesar 200 MW juga belum mencukupi, sehingga pasokan utama tetap menunggu pembangunan pembangkit baru dan transmisi.
Inalum yang merupakan bagian MIND ID terus melakukan proses hilirisasi. Adapun hilirisasi yang dijalankan Mining Industry Indonesia (MIND ID) berfokus pada penciptaan nilai tambah mineral melalui pengolahan lanjutan, manufaktur, dan integrasi rantai pasok industri sehingga komoditas tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah, melainkan menjadi produk industri bernilai tinggi.

