Kebutuhan Listrik Inalum untuk Smelter Baru dan Ekspansi Kuala Tanjung Capai 1,6 GW
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengungkapkan kebutuhan pasokan listrik yang sangat besar, yakni mencapai 1,6 gigawatt (GW) untuk mendukung proyek smelter baru di Kalimantan Barat serta ekspansi smelter eksisting di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menyampaikan bahwa ketersediaan listrik menjadi faktor penentu keberhasilan agenda hilirisasi aluminium nasional. Sebab, smelter aluminium merupakan industri yang sangat bergantung pada stabilitas listrik.
“Musuh besar kami itu kalau listrik mati, smelter kami tidak bisa recovery. Pot-nya (tungku pelebur) langsung mati dan itu kita harus bangun lining baru untuk pot-nya. Jadi sangat berbahaya sekali buat kami, kalau availability listriknya itu kurang dari 100%,” kata Melati dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Proyek terbesar Inalum dalam lima tahun ke depan adalah New Aluminium Smelter Mempawah dengan kapasitas produksi 600.000 ton aluminium per tahun. Untuk mendukung operasi smelter tersebut, Inalum memerlukan pasokan listrik 932 megawatt (MW) dengan instalasi terpasang 1,2 GW agar tersedia unit cadangan demi memastikan ketersediaan listrik 100% selama 365 hari per tahun.
Baca Juga
Inalum Sebut Danantara Siap Biayai Proyek SGAR Tahap II Senilai Rp 13,36 Triliun
Inalum menargetkan smelter baru ini beroperasi pada 2029, sehingga kebutuhan listrik harus tersedia sebelum akhir 2028 untuk mendukung tahap commissioning. Melati menyebut bahwa pembangkit listrik tidak masuk dalam capital expenditure (capex) Inalum.
“Jadi besar harapan kami, kami bisa membeli listrik. Membeli listrik dari PLN atau misalnya jika PLN tidak memiliki rencana untuk pemenuhan listrik di area Kalimantan Barat, maka kami minta diizinkan juga kami bisa mencari kapasitas listrik itu dari IPP (Independent Power Producer) yang lain. Karena kami sangat ingin pembangunan pemangkit itu bisa menjadi captive source untuk smelter kita,” ujar Melati.
Selain pembangunan smelter baru di Kalimantan Barat, Inalum juga menyiapkan ekspansi smelter Kuala Tanjung di Sumatera Utara melalui penambahan potline keempat dan peningkatan kapasitas potline existing.
Kebutuhan listrik tambahan untuk Smelter Kuala Tanjung adalah sebesar 209 MW untuk operasi awal potline 4 pada 2029, kemudian pada 2030 kenaikan kebutuhan menjadi 232 MW setelah upgrading potline 3, dan di 2031 (full stage) kebutuhan listrik mencapai 406 MW seiring peningkatan kapasitas produksi hingga 520.000 ton.
Kendati demikian, angka tersebut masih bersifat indikatif dan bergantung pada ketersediaan listrik di Sumatera Utara, mengingat jaringan transmisi antara Sumatera bagian atas dan bawah belum terhubung.
“Kami mengerti di PLN saat ini koneksi antara Sumatera bagian bawah dengan atas belum terjadi, maka possibility untuk kelistrikan kapasitas yang ada, kami assume ini masih hanya dari Aceh dan Sumatera Utara,” ucapnya.

