Luar Biasa, Penghematan Devisa dari Penyerapan Biodiesel Capai Rp 107,2 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, mandatori program Biodiesel B40 telah berhasil menghemat devisa sebesar Rp 107,2 triliun dengan menyerap minyak sawit hingga 12,11 juta kiloliter (KL) sepanjang tahun ini (year to date).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi menyampaikan, mandatori B40 -- campuran 40% minyak sawit dan 60% solar telah berjalan sejak awal tahun 2025. Tujuan utama mandatori ini adalah untuk menstabilkan harga sawit, menurunkan atau mensubstitusi impor, dan menurunkan emisi karbon.
“Untuk realisasi penyaluran biodiesel tahun 2025, pencapaian sampai dengan 6 November ini sudah menyerap sekitar 12,11 juta KL. Dan dari target pelaksanaan penyerapan biodiesel 15,6 juta KL, kita sudah mencapai 77,8%,” kata Eniya dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Jakarta, dikutip Rabu (12/11/2025).
Dia memaparkan, manfaat program mandatori B40 yang diperoleh selama hampir satu tahun pelaksanaan adalah memperoleh penghematan devisa sekitar Rp 107,2 triliun. Sebelumnya, pada saat pelaksanaan B35 tahun lalu, negara mendapatkan benefit untuk penghematan devisa dengan total Rp 124 triliun.
“Dan untuk peningkatan nilai tambah CPO (crude palm oil) tahun 2025 ini hingga November sebesar Rp 16,89 triliun. Dan penyerapan tenaga kerja yang sudah terlaksana adalah sekitar 1,5 juta orang sudah bekerja di on-farm maupun off-farm,” papar Eniya.
Lebih lanjut Eniya menyebutkan, untuk penurunan emisi gas rumah kaca sampai dengan bulan November ini telah berhasil menurunkan 32,2 juta ton CO2. Maka dari itu, program ini akan dikawal dengan baik agar memberikan lebih banyak manfaat bagi negara dan masyarakat.
“Jadi dari sini kita bisa melihat bahwa tahapan-tahapan pelaksanaan biodiesel di dalam program-program hingga tahun 2025 ini kita ketahui bahwa saat ini impor dari solar makin menurun. Dan ini kita harapkan nanti di pengaturan untuk komposisi biodiesel yang lebih besar lagi untuk bisa mengurangi impor,” ucapnya.
Sementara itu terkait dengan ketersediaan bahan baku, Eniya mengatakan, produsen dari bahan bakar nabati yang saat ini aktif tersebar di seluruh Indonesia, tetapi utamanya berada di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.
“Dan di sini saat ini total kapasitas nasional untuk produksi biodiesel adalah 22 juta kiloliter, terdiri dari 28 pabrik biodiesel dan 25 badan usaha untuk bahan bakar nabati,” ungkap Eniya.

