Sentimen Ekonomi AS Tunjukkan Pelemahan, Emas Langsung Kinclong Lagi
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust.id – Harga emas melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin (10/11/2025), menembus level tertinggi dalam 2 minggu terakhir. Lonjakan ini terjadi setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan pelemahan, memicu keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga acuannya.
Kenaikan harga logam mulia tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ekspektasi kebijakan moneter longgar.
Harga emas spot naik 2,3% ke level US$ 4.090,96 (sekitar Rp 65,3 juta) per ons pada pukul 11.43 waktu New York, setelah sempat menyentuh titik tertinggi sejak 27 Oktober. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 2,2% menjadi US$ 4.099,20 per ons.
Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan bahwa serangkaian data ekonomi yang lemah pekan lalu mendorong pasar menjadi lebih dovish terhadap arah kebijakan moneter The Fed. “Beberapa data yang lemah minggu lalu membuat pasar sedikit lebih dovish dalam ekspektasi mereka terhadap The Fed. Kita masih bisa melihat penurunan suku bunga pada bulan Desember,” ujar Grant dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Berpotensi Tembus US$ 4.133 per Troy Ounce, Sentimen Politik AS Jadi Penentu
Berdasarkan data terbaru, ekonomi AS kehilangan lapangan kerja pada Oktober, terutama di sektor pemerintah dan ritel. Selain itu, survei pada awal November menunjukkan sentimen konsumen menurun karena kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi yang belum stabil.
Pasar kini memperkirakan peluang sebesar 67% bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada Desember, dan meningkat menjadi sekitar 80% pada Januari, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Secara historis, emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap menjadi pilihan utama di tengah suku bunga rendah dan ketidakpastian ekonomi global. Grant menilai harga emas berpotensi terus menguat hingga akhir tahun. “Harga emas bisa bergerak di kisaran US$ 4.200 hingga US$ 4.300 per ons pada akhir tahun, dan target US$ 5.000 per ons masih sangat realistis pada kuartal pertama tahun depan,” katanya.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa logam mulia masih menjadi aset lindung nilai yang menarik bagi investor ketika prospek ekonomi global menurun dan dolar AS melemah.
Dampak Fiskal dan Arah Pasar Global
Di sisi lain, Senat AS pada Minggu (9/11/2025) menyetujui langkah membuka kembali pemerintahan federal setelah penutupan selama 40 hari. Langkah tersebut diharapkan dapat memulihkan kegiatan ekonomi dan arus data makroekonomi.
“Pembukaan kembali aktivitas ekonomi akan memulihkan arus data dan menghidupkan kembali ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Desember. Namun yang lebih penting, hal ini akan mengalihkan fokus pasar kembali ke prospek fiskal AS yang memburuk,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen,
Baca Juga
Penutupan Pemerintah AS Bikin Emas Antam (ANTM) Makin Mahal, Saatnya Beli Sebelum Terbang Lagi?
Kondisi fiskal AS yang rapuh dapat memicu ketidakpastian baru di pasar keuangan, mendorong investor untuk kembali menempatkan dana di aset aman, seperti emas dan logam berharga lainnya.
Selain emas, harga perak spot juga naik 3,6% menjadi US$ 50,03 per ons, level tertinggi sejak 21 Oktober. Platinum menguat 1,5% ke US$ 1.568,41 per ons, sementara paladium naik 2,2% ke US$ 1.411,33 per ons.

