REI Sambut Positif Dorongan IPO Pengembang Rumah Subsidi, Tetapi...
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Joko Suranto menilai rencana Menteri Pekerjaan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait yang mendorong pengembang rumah subsidi untuk melantai di bursa atau melakukan Initial Public Offering (IPO) merupakan langkah positif bagi peningkatan kapasitas pelaku usaha sektor properti.
“Kalau keinginan Pak Menteri untuk mendorong pengembang subsidi bisa IPO, itu kan keinginan yang bagus. Tahapan yang harus dilampaui setiap pengusaha itu pada saatnya untuk mengembangkan kapasitas dan pembiayaan bisa melalui IPO,” kata Joko di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (30/10/2025).
Baca Juga
Menteri Ara Dorong Skema Rumah Subsidi Vertikal di 4 Kota Ini
Namun demikian, Joko menyebut terdapat sejumlah tantangan bagi pengembang rumah subsidi untuk bisa memenuhi kriteria perusahaan publik. Menurutnya, tahapan IPO memerlukan kesiapan dari sisi bisnis, manajemen, dan pemenuhan berbagai standar tata kelola.
“IPO itu tahapan ketika secara kapasitas bisnis dan manajemen sudah memenuhi kriteria tertentu. Sementara, umumnya pengusaha kita masih pada posisi perusahaan keluarga, suaminya direktur, komisarisnya istri, dan sebagainya,” tutur Joko.
Untuk mempersiapkan anggotanya menuju tahap tersebut, kata Joko, REI memiliki dua lembaga pembinaan, yaitu Badan Diklat dan lembaga sertifikasi yang menjadi bagian dari upaya pemberdayaan (empowering) pelaku usaha.
“Di Realestat Indonesia ada Badan Diklat sebagai bagian dari empowering. Kemudian ada lembaga sertifikasi dengan 12 level tahapan. Kalau itu bisa dijalankan, maka tahap selanjutnya adalah memilih, tetap menjadi perusahaan private atau mau go public,” jelasnya.
Joko pun menegaskan, dorongan pemerintah agar pengembang rumah subsidi bisa melantai di bursa merupakan opsi yang menantang, tetapi memberikan peluang besar untuk memperkuat struktur pembiayaan dan tata kelola bisnis sektor properti nasional.
“Jadi, ini adalah opsi yang baik buat pengembang, opsi yang challenging. Tapi semuanya kita lihatnya adalah sesuatu yang bagus, sesuatu yang bisa mendorong kita untuk selalu bertumbuh,” tegas Joko.
Baca Juga
BP Tapera Kembangkan Skema Tabungan Perumahan Sukarela Usai Putusan MK
Sebelumnya, Menteri PKP Maruarar Sirait mendorong para pengembang rumah subsidi untuk memanfaatkan instrumen pasar modal dengan cara IPO sebagai alternatif pembiayaan di luar sektor perbankan.
Menurut Maruarar, hal tersebut dapat menjadi pilihan sehat bagi pengembang agar tidak hanya bergantung pada pinjaman bank. “Tadi yang disampaikan Pak Pieter (Tanuri) soal pasar modal dipelajari dulu. Nanti bisa pelajari juga dengan sekuritas seperti Mandiri, BNI, atau Danareksa. Jadi pengembang punya beberapa alternatif pembiayaan,” kata Maruarar beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa Ara itu menambahkan, pemerintah tengah membangun ekosistem pembiayaan yang lebih beragam bagi sektor perumahan. “Ini ekosistem yang mau kita bangun. Sekuritas juga banyak, tentu yang berintegritas, reputasinya baik, dan bisa mendukung pengembang dalam membiayai proyek,” tandasnya.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Buana Capital Sekuritas sekaligus pemilik PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), Pieter Tanuri menilai pengembang rumah subsidi memiliki potensi besar untuk berkembang melalui pasar modal.
“Saya kaget waktu tahu ternyata rumah subsidi kalau digarap dengan baik bisa memberi keuntungan bagi pengembang. Saya bilang, kenapa tidak dibantu dari pasar modal supaya selain dari hutang bisa juga dari equity. Potensinya luar biasa,” terang Pieter.
Ia menambahkan, pembiayaan melalui pasar modal lebih efisien karena tidak membebankan bunga seperti pinjaman bank. “Kalau dari perbankan ada bunga, kalau dari capital market tidak ada bunga. Dengan modal yang lebih besar, pengembang bisa membangun rumah lebih banyak,” imbuh Pieter.
Ia juga menilai momentum pertumbuhan pasar modal nasional saat ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat sektor perumahan. “Sejak Pak Prabowo dilantik menjadi Presiden dan Pak Purbaya menjadi Menteri Keuangan, pasar modal meningkat tajam. Ini potensinya harus digunakan, bukan hanya dari sisi perbankan tapi juga dari pasar modal,” pungkas Pieter.

