Keren! 6,5 Tahun Beroperasi, MRT Konsisten Jaga OTP 99,9%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT MRT Jakarta (Perseroda) secara konsisten mampu mempertahankan kinerja ketepatan waktu (on-time performance/OTP) di level 99,9% selama 6,5 tahun mengoperasikan angkutan massal cepat (mass rapid transit/MRT) jalur Lebak Bulus–Bundaran HI sepanjang 16 km.
“Selain membangun infrastruktur, kami punya mandat mengoperasikan dan memelihara layanan existing. Jalur Lebak Bulus–Bundaran HI telah beroperasi selama 6,5 tahun dengan on-time performance 99,9%,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat dalam pertemuan dengan pimpinan media massa di Jakarta, Selasa (28/10/2025) malam.
Tuhiyat didampingi Direktur Operasi dan Pemeliharaan Mega Tarigan, Direktur Konstruksi Weni Maulina, Direktur Pengembangan Bisnis Farchad H Mahfud, serta Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi Risa Olivia.
Baca Juga
MRT Jakarta Tambah Jadwal Operasional Dukung Jakarta Running Festival 2025
Menurut Tuhiyat, PT MRT Jakarta akan terus berupaya mempertahankan OTP di level maksimal demi memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada para penumpang. Bukan hanya MRT fase 1 (Lebak Bulus–Bundaran HI), tapi juga fase 2,3,4, dan seterusnya.
“OTP adalah salah satu indikator penting untuk mengukur kepuasan penumpang,” ujar dia.
Tuhiyat mengatakan, jumlah penumpang kumulatif MRT Jakarta sejak awal beroperasi secara komersial pada 1 April 2019 hingga saat ini mencapai 169 juta orang. “Tahun ini, rata-rata jumlah penumpang mencapai 120 ribu penumpang per hari,” tutur dia.
Tersambung Kuartal I-2026
Tuhiyat mengungkapkan, PT MRT Jakarta menargetkan terowongan (tunnel) jalur fase 2 dari Bundaran HI menuju Kota tersambung sepenuhnya pada kuartal I-2026. Progres pembangunan MRT Jakarta fase 2A dan 2B telah mencapai 54,36%. “Pada kuartal I-2026, tunnel akan tersambung seluruhnya hingga kawasan Kota,” ucap dia.
Baca Juga
Makin 'Cashless', Naik MRT Jakarta Sekarang Bisa Bayar Pakai Yup
Tuhiyat menjelaskan, proyek MRT fase 2 terdiri atas dua bagian. Fase 2A menghubungkan Bundaran HI dengan Kota. Sedangkan fase 2B menghubungkan Kota dengan Ancol. Setelah tersambung, tahap operasional akan dilakukan bertahap.
“Rute Bundaran HI–Monas ditargetkan beroperasi lebih dulu, yaitu pada 2027. Adapun rute Monas–Kota ditargetkan beroperasi pada 2029,” ujar dia.
Selain menyelesaikan jalur utara-selatan, menurut Tuhiyat, PT MRT Jakarta tengah menyiapkan fase 3 atau east-west line yang akan membentang dari Medan Satria (Bekasi) hingga Tomang (Jakarta Barat) sepanjang 24,5 km. Pekerjaan konstruksi ditargetkan pada pertengahan 2026 hingga 2027.
“Fase 3 ini adalah proyek strategis karena akan menghubungkan kawasan timur dan barat Jakarta. Kajian pembiayaan dan desainnya sudah kami siapkan,” papar dia.
Baca Juga
MRT Jakarta Teken Kontrak Pengadaan 8 'Trainset' dengan Sumitomo untuk Jalur Bundaran HI-Kota
Selanjutnya, kata Tuhiyat, fase 4 atau outer ring line bakal dibangun dari Fatmawati ke Kampung Rambutan sepanjang 11 km. Proyek ini akan menggunakan skema pembiayaan kreatif (creative financing) non-APBN dan non-APBD, melibatkan sektor swasta melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
“Kami ingin mengembangkan pembiayaan yang tidak membebani anggaran negara. Kolaborasi dengan swasta menjadi kunci keberlanjutan proyek ini,” jelas dia.
Tuhiyat menegaskan, PT MRT Jakarta juga aktif menjajaki kerja sama dengan pemerintah pusat, Pemprov Jakarta, dan pemda di Jawa Barat dan Banten. Itu dilakukan untuk memperluas jaringan MRT hingga Tangerang Selatan dan Bekasi guna mempercepat konektivitas antarwilayah.
“Kami proaktif berkomunikasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Tujuannya satu, yakni membantu mempercepat konektivitas antarkota di kawasan metropolitan,” tandas dia.
Baca Juga
Bangun Park and Ride
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad H Mahfud menambahkan, PT MRT Jakarta juga mengembangkan enam kawasan berbasis transit (transit oriented development/TOD), di antaranya di Lebak Bulus, Blok M, dan Fatmawati.
Di kawasan Fatmawati akan dibangun park and ride atau fasilitas bagi para masyarakat agar mereka bisa memarkir kendaraannya, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan MRT. “Tujuannya untuk mengurangi kemacetan di tol dan mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik,” tegas Farchad.
Tuhiyat menuturkan, dari segi pendanaan, proyek MRT Jakarta masih didukung Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui mekanisme verifikasi berlapis sebelum dana proyek dicairkan (three sub-level agreement).
Baca Juga
MRT Jakarta Targetkan Studi Kelayakan Lebak Bulus–BSD Rampung Kurang Setahun
Skema tersebut, kata Tuhiyat, memastikan proses pembayaran langsung dari JICA kepada kontraktor setelah verifikasi berlapis dari MRT, Pemprov Jakarta, pemerintah pusat, dan JICA.
Baca Juga
MRT Targetkan Pembangunan East–West Dimulai Semester II 2026, Tahap I Telan Investasi Rp 50 T
“Skema ini membuat alur pembiayaan sangat ketat dan transparan. Tidak ada dana yang mengendap di kami, semua dibayar langsung oleh JICA ke kontraktor,” tandas dia.
Tuhiyat berharap seluruh pihak terus mendukung pengembangan MRT Jakarta sebagai tulang punggung transportasi publik Ibu Kota. PT MRT Jakarta berkomitmen menjadikan MRT sebagai simbol kota global yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Jadi, dukungan masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk mewujudkan hal itu,” tegas dia.

