Bahlil: Petani Sawit Jadi Pahlawan Energi Baru Indonesia, Hemat Devisa hingga Rp 93 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut para petani sawit saat ini sebagai pahlawan baru di sektor energi. Pasalnya, sawit yang dipanen kini diolah menjadi bahan bakar nabati (BBN) untuk kendaraan.
Bahlil mengungkapkan, sepanjang 2025 sejak awal tahun hingga September, realisasi program campuran bahan bakar biodiesel dari minyak sawit sebanyak 40% atau B40 sebesar 10,57 juta kiloliter (KL) disertai peningkatan nilai tambah crude palm oil hingga Rp 14,7 triliun.
Baca Juga
Selain menghemat devisa hingga mencapai Rp 93,43 triliun, mandatori program ini mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 1,3 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi karbon hingga 28 juta ton.
“Petani sawit menjadi pahlawan energi baru. Program transisi energi ini membuka lapangan kerja baru sambil menjaga kelestarian bumi. Dari kebun sawit rakyat hingga tangki kendaraan bermotor, rantai nilai biodiesel telah menjadi bukti Indonesia mampu menciptakan ekosistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan berkeadilan,” kata Bahlil di Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Bahlil menyebutkan, implementasi B40 yang telah berlangsung sejak awal 2025 bahkan telah berhasil mengurangi impor solar nasional. Berdasarkan data Kementerian ESDM, impor solar sepanjang 2025 ini sebesar 4,9 juta KL atau hanya 10,58% dari kebutuhan nasional.
Sebagai pembanding, pada 2024 saat masih menggunakan biodiesel B35, impor solar berada di angka 8,02 juta KL. Maka dari itu, pemerintah berharap implementasi B50 tahun 2026 bisa membuat Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor solar.
“Biodiesel ini campuran dari CPO dan metanol. Kalau CPO kita bisa kita pakai secara maksimal di sini, itu untuk meningkatkan nilai petani di sawit dan mengurangi impor kita solar, agar uang kita, devisa kita tidak lari keluar,” ungkap Bahlil.
Baca Juga
Mandatori E10 Ditarget pada 2028, ESDM Bahas Dampak Etanol pada Mesin Kendaraan
Ke depan, pemerintah merencanakan mandatori B50, yaitu program bioenergi dalam bentuk campuran 50% biodiesel dari minyak sawit dan 50% solar. Ditargetkan implementasi B50 mulai berjalan pada semester II 2026.
“Sekarang sudah mencapai B40, dan kemarin sudah kami rataskan (rapat terbatas) atas arahan Bapak Presiden, sudah diputuskan bahwa 2026 insyaallah akan kita dorong ke B50. Dengan demikian tidak lagi kita melakukan impor solar ke Indonesia. Ini keputusan berani, karena berhadapan sama importir,” tegas Bahlil.

