Cerita di Balik “Merah Putih” Kilang Cilacap Pertamina yang Terbangkan Pesawat Ramah Emisi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) IV Cilacap mencetak tonggak penting dalam pengembangan energi hijau nasional. Kilang ini berhasil memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur dengan kandungan minyak jelantah (used cooking oil/UCO) sebesar 2,5%, melampaui target awal 1%.
General Manager Refinery Unit (RU) IV Cilacap PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Wahyu Sulistyo Wibowo mengungkapkan, produksi SAF kali ini menggunakan dua bahan baku utama, yakni kerosene (minyak tanah) dan used cooking oil.Pencapaian ini menandai kemajuan nyata dalam pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan di sektor penerbangan nasional. Produk SAF tersebut telah diuji pada penerbangan komersial Pelita Air rute Soekarno-Hatta–Denpasar pada 15 Agustus 2025, dan berjalan sukses tanpa kendala teknis.
Bahkan belakangan, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) juga telah menggunakan SAF pada penerbangan internasional rute Amsterdam–Jakarta. Mereka berharap pada 2027, pesawat Garuda bisa menggunakan SAF di seluruh rute penerbangan.
.
Keberhasilan ini juga berkat penggunaan katalis Merah Putih, hasil kolaborasi antara Pertamina, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT Katalis Sinergi Indonesia (KSI). Teknologi katalis ini menjadi bukti nyata kemampuan riset nasional dalam mendukung transisi energi berkelanjutan. Katalis berfungsi mempercepat proses konversi bahan baku menjadi bioavtur dengan efisiensi tinggi.
"Keunggulan tersebut membuat produksi SAF di Cilacap tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga kompetitif secara ekonomi dibandingkan standar internasional," kata Wahyu.
Untuk menjaga mutu produk, kata dia, RU IV Cilacap memiliki laboratorium berstandar tinggi dengan sistem quality control (QC) terakreditasi. Semua hasil pengujian menunjukkan performa SAF yang baik, baik dari sisi efisiensi pembakaran maupun emisi gas buang. "Kapasitas unit pengolahan bioavtur di RU IV mencapai 9.000 barel per hari, dengan campuran 2,5% minyak jelantah," kata Wahyu.
Dengan capaian ini, Pertamina kini menunggu kebijakan lanjutan pemerintah sebagai pemegang saham utama. Dukungan regulasi diharapkan mempercepat implementasi mandat energi berkelanjutan yang mencakup sektor transportasi udara. “Ke depan, kolaborasi antara masyarakat, industri, dan pemerintah akan menjadi kunci keberhasilan. Teknologi akan terus berkembang mengikuti arah kebijakan tersebut,” tambah Wahyu.Baca Juga
Muat 2 Juta Barel, Tangki Baru Pertamina di Kilang Balikpapan Luasnya Setara 47 Lapangan Padel
Pemerintah sebelumnya telah menetapkan peta jalan transisi energi melalui bauran energi baru terbarukan (EBT), bahwa biofuel dan SAF menjadi komponen penting untuk mencapai net zero emission pada 2060.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga, Harsono Budi Santoso, menegaskan roadmap ekosistem SAF telah disusun hingga 2040 dengan tiga tahap besar.
"Tahap pertama, inkubasi, sedang berjalan pada 2025, yang fokus pada pembangunan kemitraan dengan maskapai internasional guna menciptakan permintaan yang terjamin bagi produsen SAF," kata saat menjadi salah satu pembicara pada sesi panel "Investortrust Green Energy Summit 2025", yang mengangkat tema “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat”, di Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Sejumlah maskapai yang menjadi mitra potensial, antara lain Garuda Indonesia, Singapore Airlines, dan United.
Memasuki 2027, tahap pra-komersial akan dimulai. Pemerintah mewajibkan penggunaan SAF untuk seluruh penerbangan internasional yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Ngurah Rai (DPS). Harsono menyebut, pada tahun tersebut, target penggunaan bio-jet fuel mencapai 3% dari total kebutuhan bahan bakar penerbangan nasional, atau sekitar 168 juta liter dari total 5,6 miliar liter per tahun.
Puncak roadmap ini adalah pada 2040, ketika SAF diwajibkan untuk seluruh penerbangan domestik yang berangkat dari bandara utama di Indonesia. Pada tahap ini, porsi SAF ditargetkan mencapai 15% dari total konsumsi jet fuel nasional, dengan proyeksi kebutuhan bio mencapai 1,116 miliar liter dari total 8,928 miliar liter per tahun.
Lebih lanjut, Harsono menegaskan bahwa Pertamina Patra Niaga siap menjadi penggerak utama dalam pengembangan dan distribusi SAF dengan memanfaatkan potensi feedstock lokal, termasuk limbah minyak jelantah. Ia optimistis bahwa dukungan terhadap SAF tidak hanya memberikan solusi bagi penurunan emisi karbon di sektor aviasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular dan pengembangan industri hilir berbasis bioenergi.
“SAF adalah jembatan kita menuju masa depan energi yang lebih bersih dan inklusif. Kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai pemain penting di pasar SAF regional, sejalan dengan arah kebijakan transisi energi nasional,” ujar Harsono.
Adapun Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan kemandirian teknologi bangsa.
“Saya ingin Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi menjadi pemain utama dalam teknologi dan industri global,” ujar Presiden Prabowo, saat meninjau booth teknologi nasional termasuk “Katalis Merah Putih” hasil kolaborasi Pertamina dan ITB dalam pembukaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2025 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Kamis (7/8/2025).
Kilang Cilacap Tulang Punggung Migas Nasional
Wahyu menjelaskan, Kilang Pertamina RU IV Cilacap merupakan tulang punggung produksi migas nasional. Terdiri dari dua unit, kilang pertama dibangun tahun 1974 dan beroperasi pada 24 Agustus 1976 dengan kapasitas 100.000 barel per hari. Kilang kedua beroperasi tahun 1984 dengan kapasitas 200.000 barel per hari. "Setelah modernisasi pada 1997, kapasitas total meningkat menjadi 348.000 barel per hari," kata Wahyu.
Baca Juga
Pertamina Rampungkan 11 Proyek Kilang Strategis untuk Dongkrak Produksi BBM dan 'Biofuel'
Produk yang dihasilkan paling lengkap di antara seluruh kilang Pertamina, mulai dari bensin (Pertalite, Pertamax), solar, avtur, LPG, propylene, hingga produk petrokimia seperti paraxylene dan benzene. Semua produk memenuhi standar nasional dan bahkan melampaui spesifikasi minimum. "Dalam pengujian research octane number (RON) menggunakan mesin Cooperative Fuel Research (CFR), produk Pertalite dari RU IV selalu berada di atas standar minimum 90.," kata Wahyu.
Capaian RU IV Cilacap memperkuat posisi Indonesia sebagai pionir di kawasan dalam pengembangan bioavtur berbasis minyak jelantah. Inovasi ini bukan sekadar proyek teknis, tetapi bagian dari strategi jangka panjang menuju kemandirian energi dan ketahanan lingkungan.
Secara nasional, kata Wahyu, proyek pengembangan kilang mencakup Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Proyek RDMP bertujuan menurunkan kadar sulfur dari 3.500 ppm menjadi 2.000 ppm, dan akan kembali diturunkan mulai 2027. Selain itu, Pertamina juga mengembangkan Diesel Hydrotreater dan Gasoline Selective Hydrotreater untuk menghasilkan bahan bakar rendah sulfur.
Tak hanya itu, unit Transesterification Diesel Hydrotreater (TDHT) digunakan untuk memproduksi biofuel, seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Pertamina Renewable Diesel (RD100). Teknologi ini akan menjadi model produksi hijau di seluruh kilang nasional.
Energi hijau bukan lagi wacana, tetapi kenyataan yang terus tumbuh. Keberhasilan SAF dari Kilang Cilacap yang mampu menerbangkan pesawat rendah emisi hingga biofuel melalui unit TDHD menunjukkan bahwa upaya kecil yang konsisten dapat menumbuhkan dampak besar, seperti pepatah “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” dalam perjalanan menuju energi hijau.

